Eksplor kebudayaan Jawa
Wilujengan Wuku dan Siklus 210 Hari Rasa Syukur Jawa
Kalender Masehi berputar 365 hari. Kalender Hijriah berjalan mengikuti bulan. Tapi di Jawa, ada siklus lain yang bergerak diam-diam di bawah keduanya: 210 hari, berulang tanpa henti, dan setiap putarannya disambut dengan doa serta hidangan …
Read More
Dari Sela ke Besar, Perpindahan Bulan yang Penuh Perhitungan
Ada jeda tenang di antara dua bulan besar dalam kalender Jawa. Bulan ke-11, Sela atau Selo (disebut juga Dulkaidah), datang dengan reputasi yang agak seram di kalangan masyarakat Jawa: bulan yang baiknya dipakai untuk diam, …
Read More
Dalang Muda dan Strategi Menghidupkan Wayang untuk Generasi Digital
Ki Catur "Benyek" Kuncoro naik ke panggung dengan blangkon dan kemeja batik, tapi playlist di ponselnya berisi lagu K-Pop dan soundtrack anime. Dalang muda ini punya misi: membuat wayang kulit relevan bagi generasi yang lebih …
Read More
Filosofi Batik Kawung, Parang, dan Udan Liris dalam Pandangan Jawa
Tahun 1927, Keraton Yogyakarta mengeluarkan peraturan tertulis bernama Rijksblad van Djokjakarta. Isinya mengatur pakaian keprabon: siapa boleh memakai motif batik apa, di upacara mana, dan seberapa besar pola boleh dilukiskan pada sehelai kain. Tiga motif …
Read More
Ruwatan dan Pertanyaan tentang Takdir yang Bisa Diubah
Seorang anak duduk bersila di atas tikar putih pada tengah malam. Gamelan mengalun. Seorang dalang melantunkan cerita tentang Batara Kala, raksasa yang lapar dan mencari mangsanya. Lalu dalang itu berdiri, mengambil gunting, dan memotong sedikit …
Read More
Sinden, Penjaga Rasa Pertunjukan Wayang Kulit
Semalam suntuk, dalang tidak berhenti bergerak. Ia memainkan puluhan karakter, memberi isyarat kepada penabuh gamelan, berbicara dan bernyanyi dan menangis dalam satu malam yang panjang. Di sisi kanannya, seorang perempuan duduk dengan ketenangan yang agak …
Read More
Bahasa Jawa, Unggah-Ungguh, dan Generasi Muda yang Kehabisan Kata
Raka, 22 tahun, kuliah di Surabaya dan bisa menjelaskan cara kerja algoritma media sosial lebih lancar dari kebanyakan orang. Ketika pulang ke rumah kakeknya di Karanganyar dan diminta menyampaikan terima kasih secara resmi, ia terdiam. …
Read More
Bada Besar, Grebeg, dan Cara Orang Jawa Memaknai Idul Adha
Pagi 27 Mei tahun 2026 ini, ribuan orang akan berdesakan di halaman Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Mereka menunggu sesuatu yang tidak termasuk dalam agenda masjid: gunungan dari Keraton. Rangkaian beras ketan, kacang panjang, cabai merah, …
Read More
Tapa Laku Ki Ageng Suryomentaram dan Lahirnya Kawruh Jiwa
Pada suatu tengah malam di tahun 1927, Ki Ageng Suryomentaram membangunkan istrinya. "Bu, sudah ketemu yang kucari." Satu kalimat itu menutup bertahun-tahun pengembaraan. Dari keraton Yogyakarta ke warung batik di Cilacap, dari Cilacap ke sawah …
Read More
Tirakat, Laku Prihatin, dan Kesehatan Mental Orang Jawa
Selama tiga hari ia hanya makan nasi putih polos dan minum air putih. Tidak ada garam, tidak ada lauk. Ia mengurangi bicara, tidur lebih sedikit dari biasanya, dan menjauhi keramaian, semua dengan pilihan sendiri. Ini …
Read More