Semalam suntuk, dalang tidak berhenti bergerak. Ia memainkan puluhan karakter, memberi isyarat kepada penabuh gamelan, berbicara dan bernyanyi dan menangis dalam satu malam yang panjang. Di sisi kanannya, seorang perempuan duduk dengan ketenangan yang agak ganjil. Di antara dua puluh lebih laki-laki penabuh gamelan, ia satu-satunya perempuan di atas panggung.

Namanya sinden. Dalam tradisi Jawa, ia disebut waranggana.

Kata waranggana tersusun dari dua kata: wara, yang berarti perempuan, dan anggana, yang berarti sendiri. Perempuan yang sendirian. Nama itu lahir dari kenyataan: selama berabad-abad, sinden memang hadir sebagai satu-satunya perempuan di antara para pengrawit dan dalang yang seluruhnya laki-laki.

Dari Belakang ke Depan Panggung

Dulu, sinden duduk di belakang. Tepat di belakang dalang, bersebelahan dengan penabuh kendhang. Dalam banyak rombongan wayang tradisional, sinden adalah istri dalang sendiri, atau anggota keluarga salah satu pengrawit. Ia hadir sebagai bagian dari lingkaran dalam, duduk jauh dari pandangan langsung penonton.

Ki Narto Sabdho mengubah itu. Dalang asal Klaten yang aktif berkarya dari era 1950-an hingga wafatnya pada 1985 ini dikenal sebagai pembaharu tanpa henti. Ia memindahkan sinden ke depan panggung, menghadap penonton, di sisi kanan dalang. Bersama pergeseran posisi itu, jumlah sinden dalam satu pertunjukan pun mulai bertambah.

Sinden tidak lagi seorang diri. Pertunjukan berskala besar kini bisa menghadirkan delapan hingga sepuluh sinden sekaligus, tergantung pilihan dalang dan penyelenggara. Soal genap atau ganjil, tidak ada aturan baku yang mengikat. Beberapa komunitas karawitan masih memegang keyakinan bahwa angka ganjil lebih sakral dalam tradisi Jawa, tapi dalang dan penyelenggara yang menentukan semuanya.

Tugas Sinden dalam Pertunjukan Wayang Kulit

Sinden melantunkan tembang, nyanyian Jawa yang strukturnya sangat ketat. Setiap tembang mengikuti gendhing, komposisi gamelan yang sedang dimainkan. Sinden tidak memilih lagu sendiri. Ia mendengarkan, membaca suasana, lalu masuk pada momen yang tepat.

Keahlian vokal ini disebut sindhenan. Untuk menguasainya dibutuhkan bertahun-tahun latihan. Seorang sinden harus hafal ratusan cakepan atau syair tembang, memahami laras atau tangga nada slendro dan pelog, dan peka terhadap lakon yang sedang berjalan di belakang layar.

Kalau wayang sedang menampilkan adegan perang, tembang yang dipilih berbeda dengan adegan duka atau percintaan. Tugasnya adalah menjaga rasa, suasana menyeluruh pertunjukan, agar tetap mengalir dan menyentuh penonton.

Limbukan dan Goro-goro

Ada dua adegan dalam wayang kulit di mana sinden paling aktif terlibat: limbukan dan goro-goro.

Limbukan hadir menjelang tengah malam, sebagai jeda dari kisah utama. Dalang memanggil sinden untuk berinteraksi langsung. Di sini, sinden bisa berhumor, menari, atau membawakan tembang yang lebih ringan di luar pakem ketat. Penonton yang lelah menyimak lakon serius bisa bernafas. Ada tawa, ada lelucon, ada sindiran yang dipertukarkan antara sinden dan dalang.

Goro-goro datang sesudahnya. Adegan ini sering berisi komentar sosial yang dibungkus humor. Sinden ikut di dalamnya, kadang menjadi "sasaran" permainan kata bersama dalang.

Dalam kedua adegan ini, sinden adalah perempuan yang berbicara keras dan bersuara lantang di depan ratusan penonton pada tengah malam. Dalam konteks Jawa yang mengenal unggah-ungguh atau tata krama berlapis, posisi itu punya beratnya sendiri.

Tembang sebagai Pesan Moral

Syair tembang yang dilantunkan sinden sering mengandung wangsalan, teka-teki puitis khas Jawa yang di balik melodi indahnya menyimpan pesan moral dan kearifan. Penonton yang paham tradisi akan menangkap lapisan makna itu.

Lewat suaranya, nilai-nilai yang hidup dalam tradisi Jawa disampaikan malam demi malam. Tanpa mimbar. Tanpa khotbah. Hanya tembang yang mengalir di atas dentingan gamelan.

Dalang bercerita lewat wayang. Sinden menyampaikan perasaan dari cerita itu kepada penonton. Keduanya bekerja dalam satu napas yang sama sepanjang malam.

Nama yang Menyimpan Makna

Sebutan lain untuk sinden, selain waranggana, adalah pesinden. Kata ini berasal dari pasindhian, yang berarti "yang kaya akan lagu" atau secara harfiah "yang melagukan." Ada pula yang menelusuri akarnya dari kata sendu, yang berarti sendu atau menyayat hati, digabungkan dengan ing, yang bermakna "di dalam" atau "di antara."

Kalau tafsir itu diterima, sinden secara harafiah adalah suara yang menyayat hati, yang ada di tengah-tengah keramaian gamelan. Suara yang hadir di sela-sela dentingan, dan perlahan menjadi jiwa dari seluruh ruang itu.

Posisi sinden dalam pertunjukan wayang kulit ditentukan oleh satu kemampuan: memegang perasaan penonton sepanjang malam, lepas dari berapa banyak lagu yang ia nyanyikan.

Sinden Muda dan Masa Depan Tradisi

Pada November 2025, Kementerian Kebudayaan menggelar Festival Gamelan dan Sinden di Surakarta. Sebelas sinden muda dari berbagai kota di Jawa Tengah tampil di atas panggung bersama pengrawit berbaju batik. Sebagian dari mereka belum dua puluh tahun.

Ada yang melegakan dari pemandangan itu.

Sindhenan membutuhkan waktu panjang untuk dikuasai. Ratusan cakepan harus dihafal. Kepekaan terhadap suasana lakon harus diasah selama bertahun-tahun. Festival semacam ini membuka ruang bagi generasi baru untuk masuk, belajar, dan akhirnya duduk di posisi yang Ki Narto Sabdho pindahkan ke garis depan panggung itu.

Keahlian itu tidak bisa dipercepat. Tidak ada jalan singkat untuk menguasai sindhenan.

Di atas panggung wayang yang panjang dan berat itu, sinden duduk di antara semua yang terjadi. Ia tahu kapan masuk dan kapan diam. Ia membawa tembang yang di dalamnya tersimpan hal-hal yang tidak selalu bisa diucapkan dengan cara lain. Tugas itu sudah berlangsung berabad-abad, dan masih terus berlangsung malam ini, di suatu tempat di Jawa Tengah.