Raka, 22 tahun, kuliah di Surabaya dan bisa menjelaskan cara kerja algoritma media sosial lebih lancar dari kebanyakan orang. Ketika pulang ke rumah kakeknya di Karanganyar dan diminta menyampaikan terima kasih secara resmi, ia terdiam. Ia tahu arti matur nuwun. Tapi antara matur nuwun biasa dan matur sembah nuwun, antara kalimat yang cukup dan kalimat yang benar-benar tepat di hadapan orang yang lebih tua, ia tidak yakin.
Situasi seperti itu bukan langka. Penelitian yang dipublikasikan di Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, Universitas Diponegoro menemukan bahwa penguasaan kosakata krama pada generasi muda berada di angka 20,8 hingga 24,4 persen. Dari seratus kata krama, rata-rata hanya sekitar dua puluh yang mereka kenal.
Dua Kata yang Menyimpan Sistem
Unggah-ungguh sering diterjemahkan sebagai tata krama atau sopan santun, tapi akar katanya lebih spesifik. Unggah berarti mengangkat atau meninggikan. Ungguh berarti menempatkan sesuatu pada posisinya yang tepat.
Bersama, keduanya membentuk prinsip: bagaimana seseorang memosisikan dirinya dan lawan bicaranya dalam percakapan, berdasarkan usia, status, dan situasi. Seseorang yang mahir unggah-ungguh tahu kapan dan bagaimana menempatkan dirinya. Kosakata hanya sebagian dari proses itu. Ada alasan mengapa orang Jawa menempatkan kata-kata di atas segalanya, seperti terangkum dalam filosofi ajining diri saka lathi.
Tiga Tingkat Tutur, Tiga Posisi Sosial
Bahasa Jawa punya tiga tingkat tutur utama. Ngoko adalah yang paling kasual, dipakai di antara teman sebaya, kepada adik, atau kepada orang yang lebih muda. Madya ada di tengah, lebih sopan dari ngoko tapi tidak seformal krama, lazim dipakai kepada kenalan yang perlu dihormati tapi belum terlalu akrab. Krama adalah yang paling resmi, ditujukan kepada orang yang lebih tua atau lebih tinggi posisinya.
Di dalam krama ada dua lapis. Krama lugu adalah bentuk dasarnya. Krama inggil memakai kosakata yang sepenuhnya berbeda dari ngoko, baik untuk kata benda maupun kata kerja. Kata "makan" dalam ngoko adalah mangan. Dalam krama lugu menjadi nedha. Dalam krama inggil menjadi dhahar. Tiga kata untuk satu tindakan, tiga konteks sosial berbeda.
Kalau seseorang menanyakan "Apakah Bapakmu sudah makan?" dalam situasi formal, begini tampilannya dalam tiga tingkat:
- Ngoko: "Bapakmu wis mangan?"
- Krama lugu: "Bapak panjenengan sampun nedha?"
- Krama inggil: "Bapak panjenengan sampun dhahar?"
Dalam contoh di atas, panjenengan adalah bentuk krama dari "kamu" atau "Anda" yang digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati.
Satu pertanyaan, tiga versi, dan jarak sosial yang berbeda di antara ketiganya.
Angka 20 Persen
M. Suryadi, peneliti dari Universitas Diponegoro, menemukan pola berulang di berbagai wilayah: kemampuan krama anjlok pada anak-anak yang tumbuh di keluarga perkotaan yang tidak aktif menggunakan bahasa Jawa di rumah. Ini soal paparan.
Anak-anak yang tumbuh tanpa model krama di rumah hampir pasti tidak akan menguasainya hanya dari pelajaran sekolah. Bahasa krama dipelajari lewat kebiasaan, lewat orang tua yang menegur pilihan kata, lewat kakek-nenek yang menjawab dengan kalimat yang harus dicontoh.
Unggah-ungguh tidak bisa dipelajari dari buku teks saja.
Mengapa Krama Generasi Muda Jawa Melemah
Di banyak keluarga Jawa perkotaan, bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Ketika orang tua berbicara bahasa Indonesia kepada anak setiap hari, anak tidak punya model untuk krama.
Pengaruh media sosial mempercepat prosesnya. Platform digital hampir seluruhnya beroperasi dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Bahasa yang didengar setiap hari adalah bahasa yang paling dikuasai. Guru Bahasa Jawa di sekolah menghadapi kenyataan bahwa dua jam pelajaran seminggu sulit bersaing dengan belasan jam paparan bahasa lain.
Para peneliti bahasa mendokumentasikan dua hal yang hilang: kosakata krama itu sendiri, dan intuisi tentang situasi mana yang memerlukan tingkat tutur apa. Yang kedua lebih sulit dipelajari kembali.
Yang Diperlukan
Ketika seseorang berbicara krama kepada orang yang lebih tua, ia tidak hanya memilih kata yang berbeda. Ia memosisikan lawan bicaranya di atas dirinya, mengakui hierarki sosial yang ia anggap layak dihormati. Proses itu perlu latihan, dan latihan itu hanya datang dari kebiasaan.
Generasi muda yang tidak fasih berbicara krama tidak pernah punya akses ke latihan itu. Yang perlu dibangun adalah kebiasaan, dan kebiasaan dimulai dari rumah.
Peluang untuk memulai tetap ada. Di Yogyakarta dan Solo, komunitas kelas krama informal sudah berjalan dan banyak diminati oleh anak-anak muda yang sadar ada bagian dari dirinya yang belum lengkap. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga aktif mendorong penggunaan bahasa Jawa lewat program "Biasakan Berbahasa Jawa."
Langkah paling mudah: mulai berbicara krama kepada orang tua atau kakek-nenek, meski tersendat dan tidak sempurna. Itu lebih baik dari diam.
Unggah-ungguh tidak akan lenyap karena satu generasi gagap. Tapi setiap generasi yang terlewat mempersempit jembatan antara kearifan sosial itu dan dunia yang menampungnya.