Pagi 27 Mei tahun 2026 ini, ribuan orang akan berdesakan di halaman Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Mereka menunggu sesuatu yang tidak termasuk dalam agenda masjid: gunungan dari Keraton. Rangkaian beras ketan, kacang panjang, cabai merah, dan kue tradisional yang dirangkai menyerupai gunung itu diarak oleh barisan prajurit berseragam khas Jawa. Begitu tiba di halaman masjid, ribuan tangan terangkat.
Idul Adha bagi banyak orang adalah hari penyembelihan hewan kurban. Di Jawa, ia lebih dari itu.
Mengapa Orang Jawa Menyebutnya Bulan Besar
Dalam kalender Jawa, bulan Dzulhijjah dikenal dengan nama Besar, bulan ke-12 sekaligus terakhir dalam siklus tahunan. Orang Jawa menyebut perayaan Idul Adha sebagai Bada Besar, dari kata Arab "ba'da" yang artinya "sesudah." Sesudah apa? Sesudah puncak ibadah haji di Padang Arafah.
Penyatuan nama ini terjadi pada 1633, ketika Sultan Agung dari Kesultanan Mataram Islam mengintegrasikan kalender Jawa dengan kalender Hijriah. Ia ingin agar ritme kehidupan kerajaan selaras dengan ritme waktu Islam. Dzulhijjah mendapat nama Besar karena pada bulan inilah dua kewajiban terbesar dalam Islam berkumpul: haji di Mekah dan kurban di seluruh penjuru dunia.
Bulan Besar juga menempati posisi tersendiri dalam logika waktu Jawa. Sebagai bulan penutup siklus tahunan, ia dipandang sebagai momen kembalinya segala sesuatu ke titik asal sebelum putaran baru dimulai. Dari pandangan ini pulalah banyak orang Jawa memilih bulan Besar sebagai waktu pernikahan: akhir siklus yang sekaligus menjadi pembuka babak baru.
Penanggalan yang memadukan Masehi, Hijriah, dan Jawa ini menjadikan setiap hari memiliki banyak lapisan makna. Bulan Besar 2026 dimulai pada 18 Mei, bertepatan dengan masuknya Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Grebeg Besar, Sedekah Raja kepada Rakyat
Tradisi Grebeg Besar di Keraton Yogyakarta lahir bersama keraton itu sendiri. Ia ada sejak Hamengku Buwono I mendirikan Keraton Yogyakarta pada pertengahan abad ke-18. Lebih dari 250 tahun sudah berlalu, dan prosesinya tidak banyak berubah.
Beberapa gunungan disiapkan dari dapur keraton: Gunungan Jaler berbentuk kerucut langsing untuk prinsip maskulin, Gunungan Estri berbentuk lebih pipih untuk prinsip feminin. Di balik perbedaan bentuknya ada satu gagasan: keseimbangan antara dua prinsip harus hadir sekaligus, bahkan dalam sesajen yang sebentar lagi akan diperebutkan.
Arak-arakan berhenti di 4 titik: Masjid Gedhe Kauman sebagai pusat spiritual, Pura Pakualaman, Ndalem Mangkubumen, dan Kepatihan. Di setiap titik, gunungan diserahkan. Adegan yang sama pun berulang: tangan-tangan terangkat, tubuh-tubuh berdesakan, dan seseorang pulang membawa sesuatu dari hasil bumi sultan.
Bagi keraton, ini adalah bahasa sedekah. Sultan mengirim makanan ke pintu masjid sebagai wujud sedekah yang paling konkret kepada rakyatnya. Makna Idul Adha tentang pengorbanan dan berbagi terungkap dalam tindakan yang bisa dilihat, dipegang, dan dimakan.
Keraton Surakarta menjalankan tradisi yang sama. Gunungan diarak menuju Masjid Agung Surakarta, dan ribuan warga Solo hadir untuk menyaksikan sekaligus pulang dengan membawa sedikit berkat dari tangan keraton.
Dokumentasi lengkap tentang prosesi Grebeg Besar tersedia di situs resmi Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tradisi Idul Adha Jawa Selain Grebeg
Grebeg Besar mendapat banyak perhatian media. Yang kurang terliput adalah tradisi-tradisi yang terjadi jauh dari tembok keraton.
Di Semarang, Demak, dan Grobogan, ada Apitan. Nama ini berasal dari kata "apit", mengacu pada posisi bulan Dzulhijjah yang diapit dua bulan sakral dalam kalender Islam. Tradisi Apitan berupa selamatan bersama sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi sepanjang tahun. Jauh lebih sederhana dari grebeg yang megah, tapi spiritnya serupa: syukur dirayakan kolektif, bukan disimpan sendiri.
Di Pasuruan, Jawa Timur, ada Manten Sapi. Sapi yang akan dikurbankan diperlakukan layaknya pengantin: dimandikan, dipakaikan kain batik, dan diarak keliling kampung sebelum hari penyembelihan. Praktik ini berakar dari kepercayaan bahwa hewan yang hendak dikurbankan berhak mendapat penghormatan terakhir. Kurban yang tulus dimulai dari niat yang tulus, termasuk terhadap hewan yang menjadi perantaranya.
Ada juga Ngrebeg Jogja, prosesi sapi-sapi yang dihias dan diarak dengan iringan musik tradisional di sekitar area Keraton Yogyakarta. Sapi-sapi ini, yang akan dikurbankan esok harinya, berjalan dalam barisan penuh warna seolah sedang diperkenalkan kepada kota sebelum tugasnya selesai.
Akar Jawa Islam di Balik Tradisi Idul Adha
Ada pola yang terus berulang dalam cara Islam masuk ke kehidupan orang Jawa. Ketika Islam tiba di tanah Jawa melalui jalur dagang dan dakwah Wali Songo, ia menemukan tanah yang sudah diolah oleh tradisi panjang.
Tradisi slametan, makan bersama sebagai ungkapan syukur kolektif yang sudah ada jauh sebelum Islam, berjalan berdampingan dengan pembagian daging kurban. Nilai guyub, kebersamaan dalam menjalani hidup yang menjadi fondasi masyarakat Jawa, bertemu dengan ajaran tentang berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Keduanya saling menopang.
Yang lahir dari pertemuan itu adalah tradisi seperti Grebeg Besar: perayaan Islam yang dirayakan dengan cara khas Jawa, penuh simbol, penuh prosesi, dan pada akhirnya, penuh makanan yang dibagikan ke tangan-tangan yang menunggu.
Grebeg mengeja ulang pesan Idul Adha dalam aksara yang dimengerti rakyat Jawa: rezeki datang dari atas dan harus mengalir ke bawah, tidak boleh mengendap di satu tangan.
Gunungan yang diperebutkan di halaman Masjid Gedhe Kauman setiap Idul Adha masih ada karena orang masih datang. Masih berdesakan. Masih percaya bahwa sepotong kacang panjang dari gunungan sultan membawa sesuatu yang lebih dari gizi.
Bulan Besar, bagi mereka yang menjalaninya dengan sungguh-sungguh, memang besar.