Pada suatu tengah malam di tahun 1927, Ki Ageng Suryomentaram membangunkan istrinya.

"Bu, sudah ketemu yang kucari."

Satu kalimat itu menutup bertahun-tahun pengembaraan. Dari keraton Yogyakarta ke warung batik di Cilacap, dari Cilacap ke sawah di desa Bringin, utara Salatiga. Pertanyaan yang ia bawa sepanjang perjalanan itu sederhana, dan ternyata paling sulit: siapa aku?

Pangeran yang Melepas Gelarnya

Ki Ageng Suryomentaram lahir 20 Mei 1892 sebagai putra ke-55 Sultan Hamengku Buwono VII. Nama aslinya Bendoro Raden Mas Kudiarmadji. Di usia 18 tahun, ia menerima gelar Bendoro Pangeran Haryo Suryomentaram.

Hidupnya lengkap secara duniawi: keraton, pendidikan, protokol, akses ke berbagai ilmu. Ia belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab di sekolah istana. Ia juga menerima pendidikan agama Islam dari K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Tapi di balik semua keistimewaan itu ada kegelisahan yang tidak mau diam. Ia merasa belum pernah benar-benar bertemu orang yang puas, termasuk dirinya sendiri. Semua orang, termasuk ia, selalu ingin lebih banyak dari yang sudah ada.

Setelah istri pertamanya meninggal, Suryomentaram memutuskan hal yang tidak lazim dilakukan seorang pangeran: ia melepas gelar dan pergi meninggalkan keraton.

Lelaku yang Dimulai Diam-diam

Dalam tradisi Jawa, tapa laku adalah bentuk latihan jiwa yang mengharuskan seseorang bergerak, menjalani sesuatu, bukan hanya berdiam di atas tikar meditasi. Ia bisa berupa puasa, berjaga malam, mengurangi bicara, atau perpindahan fisik ke tempat yang menuntut kesederhanaan. Intinya adalah disiplin yang mengasah kesadaran dari dalam.

Suryomentaram memilih jalur yang jarang. Ia pergi diam-diam dari keraton, mengganti namanya menjadi Notodongso, dan berdagang batik di Cilacap. Tidak ada satu pun kerabat istana yang tahu ke mana ia pergi.

Dari Cilacap, ia membeli sebidang tanah di Bringin, sebuah desa kecil di utara Salatiga. Di sana ia bertani, mengolah sawah, hidup dari hasil kerjanya sendiri. Tetangga-tetangganya mengenalnya sebagai orang biasa. Ia tidak menyebut-nyebut soal keraton.

Periode ini sering disebut sebagai lelaku-nya yang sesungguhnya. Ia secara sadar memilih untuk tidak menjadi siapa pun kecuali dirinya: tanpa gelar, tanpa hak istimewa, tanpa bayang-bayang dinasti di belakangnya.

Malam 1927 dan Penemuan Itu

Selama bertahun-tahun di Bringin, Suryomentaram mengamati dirinya sendiri dengan teliti. Ia mencatat bagaimana keinginan muncul, bagaimana rasa tidak puas datang dan pergi, bagaimana pikiran bekerja jauh di balik tindakan yang tampak sederhana.

Di malam 1927 itu, sesuatu menjadi jelas. Yang selama ini merasa tidak puas dan tidak pernah benar-benar bertemu orang yang ia inginkan adalah dirinya sendiri. Orang itu ia beri nama: Suryomentaram.

Dari kesadaran itu lahirlah Kawruh Jiwa, ilmu tentang jiwa.

Kawruh Jiwa, Ilmu yang Berangkat dari Dalam

Kawruh Jiwa berpijak pada satu argumen: penderitaan manusia berakar pada kepinginan, keinginan yang tak habis untuk dipuji dan dianggap penting. Selama kepinginan itu tidak dikenali, ia akan terus menggerakkan manusia tanpa pernah membiarkannya merasa cukup.

Kawruh Jiwa mengajarkan kesadaran atas kepinginan itu. Kenali dari mana ia datang. Lihat siapa yang merasa tidak puas. Kesadaran itu sendiri yang kemudian menjadi rem, bukan aturan dari luar.

Caranya adalah apa yang Suryomentaram sebut pangawikan pribadi, pengetahuan tentang diri sendiri. Pendekatannya bukan spekulatif dan bukan teori yang dipinjam dari tradisi lain. Dirinya sendiri adalah objek riset pertamanya, dan ia menjalaninya selama puluhan tahun sebelum mulai mengajarkannya kepada orang lain.

Suryomentaram mulai menyebarkan Kawruh Jiwa di Bringin dan desa-desa sekitarnya pada tahun 1930-an, dalam pertemuan-pertemuan kecil yang ia sebut pangajaran jiwa. Ia tidak menulis buku formal. Ajarannya tersebar melalui diskusi, catatan murid-muridnya, dan tembang yang ia karang untuk mempermudah pemahaman.

Menurut kajian psikologi di Universitas Gadjah Mada, pendekatan empiris Suryomentaram terhadap jiwa manusia menempatkannya sebagai salah satu perintis psikologi Nusantara yang beranjak dari pengalaman langsung, bukan dari impor teori Barat.

Enam "Sak" yang Menjadi Ukuran Hidup

Dari perenungannya, Suryomentaram merumuskan cara hidup yang ia sebut NEMSA, kependekan dari enam prinsip yang semuanya berakar kata Jawa "sak": sakepenake (senyamannya), sabutuhe (sebatas kebutuhan), saperlune (seperlunya), sacukupe (secukupnya), samesthine (semestinya), sabenere (sebenarnya).

Keenam prinsip itu lebih mirip kompas daripada kode perilaku. Mereka memberi ukuran tentang seberapa banyak yang wajar, agar manusia tidak terus-menerus berlari mengejar hal-hal yang sebenarnya sudah ada.

Salah satu ajaran Suryomentaram yang paling dikenal adalah aja dumeh, jangan mentang-mentang. Jangan mentang-mentang kaya lalu merendahkan orang. Jangan mentang-mentang punya jabatan lalu sewenang-wenang. Ajaran ini punya akar yang lebih dalam dari sekadar tata krama: ia bertumpu pada keyakinan bahwa semua manusia setara dalam kebutuhan dan kerapuhannya.

Yang Ia Tinggalkan

Ki Ageng Suryomentaram wafat 18 Maret 1962. Warisannya adalah sistem berpikir tentang jiwa manusia yang ia kembangkan selama puluhan tahun melalui pengalaman langsung di sawah, di pasar, di antara orang-orang biasa yang tidak peduli dari mana asalnya.

Tapa laku yang ia jalani berlangsung sepanjang sisa hidupnya setelah ia meninggalkan keraton. Hasilnya adalah kejernihan: kemampuan melihat diri sendiri tanpa gelar, tanpa topeng, tanpa keperluan untuk menjadi lebih dari apa adanya.

Dan mungkin itulah pencapaian yang paling sulit, apalagi bagi seseorang yang lahir sebagai pangeran.