Selama tiga hari ia hanya makan nasi putih polos dan minum air putih. Tidak ada garam, tidak ada lauk. Ia mengurangi bicara, tidur lebih sedikit dari biasanya, dan menjauhi keramaian, semua dengan pilihan sendiri. Ini puasa mutih, salah satu bentuk tirakat yang masih dijalankan banyak orang Jawa.

Dari luar, kelihatannya keras. Tapi bagi yang pernah menjalaninya, rasa perih itu justru yang dicari.

Ketika Hati Sengaja Dibiarkan Perih

Dalam percakapan sehari-hari, prihatin sering berarti turut berduka atau ikut merasakan beban orang lain. Maknanya dalam tradisi Jawa lebih spesifik dari itu: ia berasal dari frasa perih atine, hati yang terasa perih karena menahan. Perih karena memilih untuk tidak mengambil apa yang sebenarnya bisa diambil.

Prihatin adalah tindakan yang disengaja: seseorang menempatkan dirinya dalam kondisi tidak nyaman untuk tujuan yang lebih dalam dari sekadar kenyamanan itu sendiri.

Sementara tirakat berasal dari kata Arab taraka, yang berarti meninggalkan. Yang ditinggalkan adalah hal-hal yang mengikat: nafsu berlebih dan kebiasaan yang membuat orang lupa diri. Dua kata ini sering disandingkan karena keduanya bicara tentang satu hal yang sama, memilih jalan yang lebih sempit untuk membuka ruang yang lebih lapang di dalam diri.

Tirakat bisa dilakukan untuk berbagai tujuan, mulai dari memohon keberkahan, memperkuat ketahanan batin, hingga sekadar memberi jeda dari ritme kehidupan yang terlalu penuh.  Tujuannya berbeda-beda, tapi cara kerjanya sama: melalui pengendalian diri yang sadar. Dalam banyak hal, ini adalah cara tradisi Jawa merawat kesehatan mental jauh sebelum frasa itu dikenal.

Berbagai Bentuk Tirakat dalam Tradisi Jawa

Tradisi Jawa mengenal beberapa cara menjalankan tirakat. Beberapa masih hidup hari ini, meski sering tidak dibicarakan terbuka.

Puasa Mutih

Puasa mutih berarti hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih, tanpa bumbu apapun termasuk garam atau gula, selama beberapa hari tertentu. Nama dan tujuannya berkaitan: memutihkan, membersihkan batin dari segala yang mengotori. Sederhana secara fisik, tapi cukup berat kalau dijalani sungguh-sungguh.

Pati Geni

Pati geni secara harfiah berarti mematikan api. Dalam praktiknya, pelaku mengurung diri di ruangan tertutup, tidak keluar, tidak makan minum, tidak tidur dalam waktu yang ditentukan. Yang dimaksud "api" di sini adalah energi panas dari nafsu dan amarah yang, dalam pandangan Jawa, perlu dipadamkan secara berkala agar batin kembali ke keadaan asalnya yang dingin dan jernih.

Ngebleng dan Melek

Ngebleng berarti mengurung diri dari dunia luar sepenuhnya, mengurangi bicara, menjauh dari rangsangan eksternal. Sementara tirakat melek, tidak tidur semalam suntuk, dilakukan karena malam dianggap waktu di mana batin lebih mudah dijangkau. Pikiran yang siang harinya bising, malam itu mulai tenang.

Eneng, Ening, Eling

Ada konsep tiga kata yang menjadi inti dari semua laku tirakat ini: eneng, ening, eling.

Eneng berarti diam, berhenti dari aktivitas yang terus bergerak. Ening berarti bening, jernih, kondisi pikiran yang tidak keruh. Eling berarti ingat, sadar, kembali ke kesadaran yang paling mendasar tentang siapa diri seseorang dan ke mana hidupnya berjalan.

Ketiganya tidak bisa dicapai kalau batin terus-menerus digelontor oleh keinginan yang tak pernah terpuaskan. Tirakat memberi ruang bagi urutan itu untuk terjadi: berhenti dulu, baru bisa jernih; jernih dulu, baru bisa ingat.

Konsep pasrah dan sumarah bekerja di jalur yang sama. Sumarah, dari kata srah yang berarti serah, adalah penyerahan aktif yang dilakukan oleh seseorang yang sudah cukup jernih untuk melepaskan genggamannya pada hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Gerakan kebatinan Sumarah tercatat berdiri di Yogyakarta pada 8 September 1935, didirikan oleh R.Ng. Soekirnohartono, dengan inti praktik berupa meditasi pasrah yang total, duduk, diam, serah.

Tirakat dan Kesehatan Batin di Mata Psikologi

Para peneliti psikologi hari ini banyak menulis tentang regulasi diri dan kesadaran penuh. Dalam tirakat, keduanya bekerja sekaligus.

Puasa, apapun bentuknya, melatih seseorang untuk hidup di antara keinginan dan tindakan. Ada jeda yang memberi kesempatan kemampuan memilih bisa tumbuh.

Sebuah kajian yang diterbitkan dalam prosiding akademik Psikologi UNTAG Samarinda mencatat bahwa kearifan lokal budaya Jawa memiliki relevansi langsung dengan kesehatan mental, termasuk laku-laku seperti prihatin dan kebatinan. Ia berdiri sebagai sistem dukungan batin yang sudah teruji jauh sebelum psikologi modern lahir sebagai disiplin ilmu.

Yang membedakan pendekatan Jawa dari banyak program kesehatan mental modern adalah bahwa tradisi ini tidak memisahkan kondisi batin dari cara seseorang hidup sehari-hari. Laku prihatin adalah orientasi: bagaimana seseorang menempatkan diri di hadapan keinginan, kemudahan, dan kenikmatan yang terus datang.

Kalau seseorang terbiasa prihatin, ia tidak mudah goyah ketika keadaan berubah.

Ketika seseorang selesai menjalani puasa mutih tiga hari, ia kembali makan seperti biasa. Tapi caranya memandang meja makan sudah berubah: sesuatu yang sebelumnya biasa tiba-tiba terasa cukup, bahkan melimpah.

Tirakat mengajari batin untuk mengenali jarak antara butuh dan ingin. Dari pengenalan itu, ketenangan bisa mulai dibangun.