Ada ujian yang lebih sulit dari ujian akademis dalam tradisi Jawa: menjaga mulut. Setiap kata yang keluar dipercaya membawa bobot yang jauh melampaui maknanya sendiri. Dalam pandangan leluhur Jawa, ucapan adalah cermin kepribadian yang paling jujur, dan dari situlah lahir ungkapan: ajining diri saka lathi, harga diri seseorang ada pada ucapannya.

Ungkapan ini sering terdengar di lingkungan keluarga Jawa, dalam nasehat orang tua kepada anak, dalam petuah sesepuh desa. Cara pewarisannya mengalir dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, tepat seperti cara pewarisan nilai yang diajarkannya sendiri.

Mengurai Makna Ajining Diri Saka Lathi Kata per Kata

Dalam bahasa Jawa, kata ajining berasal dari kata dasar aji, yang berarti nilai atau harga. Lathi berarti mulut atau ucapan yang keluar dari mulut. Saka berarti dari. Maka ajining diri saka lathi bermakna secara harfiah: nilai diri seseorang berasal dari ucapannya.

Orang Jawa memilih ukuran yang sederhana dan demokratis: ucapan. Kecerdasan, kekayaan, dan silsilah keluarga bisa disembunyikan atau dibuat-buat. Ucapan jauh lebih sulit dipalsukan, karena cara seseorang berbicara, apa yang ia pilih untuk dikatakan, dan bagaimana ia memilih momen untuk diam, semuanya menjadi potret kepribadian yang paling otentik.

Ucapan dan Sistem Unggah-Ungguh Bahasa Jawa

Filosofi ini tidak bisa dilepaskan dari sistem tata krama berbahasa Jawa yang dikenal sebagai unggah-ungguh basa (tingkatan penggunaan bahasa). Bahasa Jawa mengenal setidaknya tiga tingkatan utama: ngoko (digunakan kepada teman sebaya atau kepada yang lebih muda), madya (tingkat menengah), dan krama (digunakan kepada orang yang lebih tua atau dihormati).

Kemampuan memilih tingkatan bahasa yang tepat sesuai lawan bicara adalah salah satu bentuk paling konkret dari ajining diri saka lathi. Seorang muda yang berbicara krama kepada orang tua menunjukkan bahwa ia memahami posisinya dalam tatanan sosial. Seorang tamu yang menyapa tuan rumah dengan ngoko tanpa alasan yang tepat menyampaikan pesan tentang siapa dirinya, terlepas dari apa yang sebenarnya ia katakan.

Dalam tradisi Jawa, salah memilih register bahasa dibaca sebagai tanda tentang karakter pembicaranya. Tata bahasa memang bisa dipelajari dalam sebulan, tetapi kepekaan terhadap lawan bicara tumbuh dari rasa hormat yang jauh lebih dalam. Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman dalam dokumentasinya tentang kearifan lokal Jawa mencatat bahwa peribahasa ini menekankan peran ucapan sebagai penentu harga diri yang tidak bisa digantikan oleh kekayaan maupun status sosial.

Pasangannya: Ajining Raga Saka Busana

Ungkapan ajining diri saka lathi hampir selalu muncul berpasangan dengan kalimat berikutnya: ajining raga saka busana, harga tubuh seseorang ada pada pakaiannya. Jika lathi berbicara tentang apa yang keluar dari dalam diri, busana berbicara tentang apa yang dipilih untuk ditampilkan ke luar.

Busana dalam konteks ini merujuk pada kesesuaian penampilan dengan momen: apakah cara berpakaian seseorang selaras dengan konteks di mana ia hadir? Menghadiri kenduri (selamatan) dengan pakaian lusuh menunjukkan kurangnya penghargaan kepada tuan rumah. Berpakaian berlebihan di tempat yang sederhana bisa dibaca sebagai ketidakpekaan terhadap suasana.

Bersama, dua ungkapan ini membentuk satu pandangan yang utuh. Nilai diri terpancar melalui ucapan, dan hadir secara fisik melalui penampilan. Keduanya cermin dari satu kepribadian yang sama, dan keduanya bisa dilatih dengan kesadaran yang terus-menerus.

Dari Diri ke Bangsa: Ajining Bangsa Saka Budaya

Dalam beberapa tradisi lisan Jawa, ungkapan ini dilengkapi dengan kalimat ketiga: ajining bangsa saka budaya, harga sebuah bangsa ada pada budayanya. Filosofi yang bermula dari kesadaran individual tentang ucapan kemudian meluas ke skala kolektif. Cara seseorang berbicara mencerminkan siapa dirinya. Cara sebuah bangsa merawat budayanya mencerminkan siapa mereka.

Ketiga lapis ungkapan ini membentuk satu kesatuan yang logis. Pribadi yang menjaga ucapannya akan hadir dengan penampilan yang selaras. Kumpulan pribadi-pribadi semacam itulah yang membangun peradaban yang peduli terhadap warisannya. Filosofi ini menyarankan bahwa perubahan bermula dari titik yang paling sederhana: satu kata yang dipilih dengan sadar.

 

Ajining Diri Saka Lathi di Era Media Sosial

Di era media sosial, ajining diri saka lathi mendapat medan uji yang baru dan lebih keras. Kata-kata kini bisa ditulis dalam hitungan detik, dikirim ke ribuan orang, dan tidak bisa ditarik kembali. Komentar yang ditulis tanpa pertimbangan, sinisme yang dikira humor, atau amarah yang dibiarkan mengalir bebas di kolom komentar, semuanya meninggalkan jejak yang lebih permanen dari ucapan lisan sekalipun.

Leluhur Jawa tidak mengenal internet, tetapi mereka memahami satu hal yang tetap berlaku: kata-kata membangun reputasi. Reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh oleh satu kalimat yang keluar tanpa dipikir. Filosofi ini mengajak pada satu hal yang sederhana sekaligus berat: jaga jarak antara pikiran dan ucapan. Isi jarak itu dengan pertimbangan.

Ajining diri saka lathi tidak menuntut seseorang menjadi sempurna. Ia menuntut satu hal: kesadaran. Kesadaran bahwa setiap kata yang keluar adalah perwakilan diri yang tidak bisa ditarik kembali, dan bahwa cara paling tulus untuk menghormati orang lain adalah dengan memilihkan kata-kata yang layak mereka dengar.