Pada 18 September 2023, dalam sebuah sidang di Riyadh, Arab Saudi, UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Garis imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak di selatan, melewati Keraton Yogyakarta, hingga Tugu Pal Putih di ujung utara itu adalah ekspresi fisik dari sebuah tata nilai. Ia menyimpan filosofi yang sudah hidup sejak abad ke-17, bernama Hamemayu Hayuning Bawana.
Dalam pernyataannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut bahwa garis itu mengandung filosofi Hamemayu Hayuning Bawana secara utuh. Yang mengejutkan: UNESCO mendefinisikan filosofi ini sebagai sustainable development (pembangunan berkelanjutan), sebuah gagasan yang baru resmi dirumuskan dunia internasional pada 1990. Keraton Yogyakarta telah menerapkannya sejak 1755.
Membaca Makna di Balik Kata
Hamemayu Hayuning Bawana terdiri dari tiga kata kunci dalam bahasa Jawa. "Hamemayu" atau "memayu" berarti memperindah atau memelihara keindahan. "Hayuning" berasal dari kata "hayu," yang menyimpan dua makna sekaligus: cantik dan indah, sekaligus selamat dan lestari. "Bawana" berarti dunia atau alam semesta. Jika diterjemahkan secara bebas: menjaga agar dunia tetap indah, selamat, dan lestari.
Makna filosofisnya melampaui terjemahan literal. Frasa ini mengandung pandangan tentang posisi manusia di semesta: seorang penjaga yang bertanggung jawab atas keseimbangan seluruh tatanan kehidupan. Setiap tindakan manusia seharusnya mempertimbangkan dampaknya terhadap keseimbangan yang lebih besar. Tanggung jawab ini sudah melekat sejak manusia dilahirkan ke dunia.
Jejak Sejarah yang Panjang
Akar Hamemayu Hayuning Bawana terhunjam jauh sebelum Keraton Yogyakarta berdiri. Jejak pertama filosofi ini mengarah ke masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja terbesar Kerajaan Mataram Islam yang berkuasa dari 1613 hingga 1645. Pada era inilah pandangan tentang harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan kosmis mulai dikodifikasi sebagai prinsip pemerintahan.
Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali penyebar Islam di Jawa yang dikenal sebagai Wali Songo, juga kerap dikaitkan dengan ajaran ini. Sebuah ungkapan yang sering dinisbatkan kepadanya berbunyi: "Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Angkoro." Maknanya kurang lebih: memperindah dan merawat keselamatan dunia, sambil menghancurkan segala bentuk angkara murka. Rumusan ini menegaskan bahwa merawat dunia tidak cukup dengan niat baik; ia harus disertai keberanian untuk melawan ketidakadilan.
Dipahat dalam Tata Ruang Keraton
Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Keraton Yogyakarta pada 1755 dengan Hamemayu Hayuning Bawana sebagai landasan konseptual seluruh tata ruangnya. Sumbu imajiner yang menghubungkan Panggung Krapyak, Keraton, dan Tugu merupakan representasi perjalanan hidup manusia: dari kelahiran, menuju kehidupan penuh makna, lalu kembali kepada Sang Pencipta.
Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan di selatan menjadi dua titik kosmologis yang mengapit seluruh tatanan ini. Merapi melambangkan kekuatan alam yang memberi kehidupan sekaligus bisa mengambilnya. Laut Selatan, yang dalam tradisi Jawa diasosiasikan dengan Nyi Roro Kidul, adalah simbol kekuatan spiritual yang harus dihormati. Keraton berdiri di tengah keduanya, sebagai mediator antara dunia manusia dan alam semesta yang lebih luas.
Tiga Hubungan yang Tidak Boleh Putus
Inti dari Hamemayu Hayuning Bawana adalah pemahaman bahwa manusia hidup dalam tiga lapis hubungan yang saling bergantung. Pertama, hubungan antara manusia dan Tuhan, yang dalam tradisi Jawa sering diistilahkan sebagai sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan keberadaan). Kedua, hubungan antara manusia dan sesama, yang menuntut kerukunan, empati, dan gotong royong. Ketiga, hubungan antara manusia dan alam semesta, yang mengharuskan sikap hormat dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Ketiga dimensi ini tidak bisa dipisahkan. Jika seseorang merusak alam demi kepentingan pribadi, ia tidak hanya menciderai lingkungan; ia juga memutus hubungannya dengan sesama dan, dalam pandangan Jawa, dengan Tuhan. Puncak dari laku (praktik hidup) yang dilandasi filosofi ini adalah kondisi yang disebut tata-titi-tenteram: keteraturan, ketelitian, dan ketenteraman yang meresap dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Dunia Akhirnya Mengakui
Penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada 2023 membawa pesan yang melampaui urusan budaya semata. Lembaga internasional itu secara eksplisit mengaitkan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dengan gagasan pembangunan berkelanjutan. Keraton Yogyakarta telah mempraktikkannya dua setengah abad sebelum konsep itu dirumuskan dalam bahasa internasional.
Ada alasan kuat di balik pengakuan ini. Orang Jawa membangun kota, merencanakan tata ruang, dan mengatur hubungan sosial berdasarkan prinsip bahwa segala sesuatu saling terhubung. Kemakmuran yang sejati hanya mungkin jika dicapai bersama, termasuk bersama alam yang dipijak. Prinsip ini terpahat dalam batu, terukir dalam denah kota, dan diwariskan lewat lisan dari generasi ke generasi.
Di era ketika percakapan tentang krisis iklim, kerusakan ekosistem, dan ketidakadilan sosial mengisi berita setiap hari, Hamemayu Hayuning Bawana terasa seperti suara yang sudah lama berkata benar. Filosofi ini mengingatkan bahwa tugas manusia di bumi bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk merawat. Dan bahwa merawat dunia dengan sungguh-sungguh adalah bentuk paling mendalam dari kemanusiaan.