Setiap kali seseorang menyebut wuku, windu, atau hari pasaran dalam percakapan sehari-hari, mereka sedang menggunakan sistem yang lahir dari pikiran seorang raja. Raja itu adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Mataram Islam yang memerintah antara 1613 hingga 1645. Di tangannya, Jawa mengalami puncak kejayaan politik dan militer, sekaligus menerima sebuah sistem penanggalan yang menyatukan dua dunia: tradisi Hindu-Jawa dan Islam.
Dari Raden Mas Rangsang ke Singgasana Mataram
Nama lahirnya adalah Raden Mas Rangsang, juga dikenal sebagai Raden Mas Jatmika. Ia putra dari Prabu Hanyakrawati, raja kedua Mataram, dan lahir sekitar tahun 1593 di Kota Gede. Ketika naik takhta pada 1613, ia menerima gelar Panembahan Hanyokrokusumo. Gelar itu kelak berganti menjadi Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani al-Jawi setelah utusan Syarif Makkah menyerahkan pengakuan resmi pada 1641.
Ia adalah raja ketiga Mataram Islam, dan boleh dikatakan yang paling berpengaruh. Dalam tiga dekade pemerintahannya, wilayah kekuasaan Mataram meluas mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Kekuatan militer, ketajaman politik, dan kepekaan budaya berpadu dalam dirinya dengan cara yang jarang terulang dalam sejarah.
Kejayaan Budaya Mataram di Era Sultan Agung
Ekspansi wilayah dilakukan Sultan Agung dengan terencana dan bertahap. Pada 1624, ia berhasil menaklukkan Madura, sebuah pencapaian yang mendorongnya menambahkan gelar Sunan pada namanya. Satu per satu kota pelabuhan dan kerajaan kecil di pesisir utara Jawa masuk ke dalam lingkar kekuasaan Mataram.
Kejayaan ini tidak hanya diukur dari luas wilayah. Sultan Agung mendorong seniman dan pengrajin keraton untuk mengembangkan seni patung, seni ukir, seni tari, dan seni bangunan. Tari Bedhaya Ketawang dan perayaan Sekaten, yang memadukan unsur Hindu-Jawa dan Islam, berkembang pesat di eranya. Ia juga menulis Serat Sastra Gending, sebuah risalat tentang kepemimpinan dan kebijaksanaan hidup yang menjadi pegangan trah Mataram.
Dua Serangan ke Jantung Batavia
Kehadiran VOC di Batavia menjadi duri dalam daging bagi Sultan Agung. Monopoli perdagangan yang dipaksakan Belanda mengancam urat nadi ekonomi Mataram dan kerajaan-kerajaan pesisir di bawah pengaruhnya. Pada 1628, ia mengorganisasi serangan besar-besaran pertama ke Batavia.
Pasukan Mataram di bawah Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja, berjumlah sekitar 10.000 prajurit, mencoba memblokir Sungai Ciliwung untuk memutus pasokan air benteng VOC. Logistik yang tidak mencukupi memaksa pasukan mundur. Sultan Agung merespons kekalahan ini dengan keras; kedua komandan dihukum mati.
Serangan kedua pada 1629 datang dengan strategi yang lebih matang. Pasukan diperbesar menjadi sekitar 14.000 orang, dan lumbung-lumbung beras tersembunyi didirikan di Karawang dan Cirebon sebagai depot logistik. Namun jaringan mata-mata VOC berhasil menemukan dan membakar seluruh lumbung itu. Tanpa perbekalan, serangan kembali gagal.
Dua kekalahan itu tidak menghapus bobot dari keputusan tersebut. Sultan Agung adalah penguasa pertama di Nusantara yang mengerahkan kekuatan militer sebesar itu untuk melawan VOC secara langsung. Perlawanannya menjadi preseden, sebuah bukti bahwa kekuasaan kolonial Eropa bisa dan harus ditantang.
Bagaimana Sultan Agung Menciptakan Sistem Penanggalan Jawa
Pada Jumat Legi, 1 Sura tahun Alip, Sultan Agung meresmikan sebuah sistem penanggalan baru. Tanggal itu bertepatan dengan 1 Muharam 1043 H, atau 8 Juli 1633 dalam kalender Masehi. Sistem ini dikenal sebagai Kalender Sultan Agungan, atau lebih sering disebut Kalender Jawa.
Menyatukan Saka dan Hijriah
Sebelum tahun 1633, masyarakat Jawa menggunakan Kalender Saka, sistem penanggalan Hindu berbasis peredaran matahari yang dibawa ke Nusantara berabad-abad sebelumnya. Sementara itu, umat Islam mengikuti Kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan.
Sultan Agung tidak membuang salah satunya. Ia mengambil titik lanjutan dari Kalender Saka, dengan hitungan tahun diteruskan dari angka 1555, lalu mengganti sistem perhitungannya menjadi berbasis bulan seperti Kalender Hijriah. Hasilnya adalah sebuah sistem yang terasa familiar bagi keduanya.
Nama-nama bulan dalam Kalender Jawa merupakan serapan dari bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah Jawa: Sura, Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, dan Besar. Setiap bulan memiliki 29 atau 30 hari secara bergantian. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hingga kini merawat dan mempublikasikan sistem penanggalan ini, sebagaimana tercatat dalam dokumentasi resmi Kalender Sultan Agungan di situs Keraton Yogyakarta.
Windu, Wuku, dan Khurup
Kalender Sultan Agungan memiliki kekayaan siklus yang mencerminkan cara pandang Jawa terhadap waktu sebagai spiral yang terus berulang. Wuku adalah siklus terkecil, terdiri dari 30 pekan masing-masing tujuh hari, membentuk satu putaran 210 hari yang disebut Dapur Wuku.
Windu adalah siklus delapan tahun. Setiap tahun dalam satu windu memiliki nama sendiri: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Empat windu membentuk siklus 32 tahun yang disebut tumbuk, saat nama hari, pasaran, tanggal, dan bulan tepat berulang kembali. Siklus terpanjang dalam sistem ini adalah khurup, rentang 120 tahun.
Kalender ini menjadi panduan masyarakat Jawa dalam menavigasi ritual, pertanian, pernikahan, dan hajat hidup lainnya dalam sebuah kerangka yang selaras antara tradisi leluhur dan keyakinan Islam.
Kalender Jawa online bisa kamu dapatkan di situs Kawruh ini.
Warisan yang Hidup di Hari Ini
Sultan Agung wafat pada 1645 dan dimakamkan di Astana Imogiri, kompleks pemakaman yang ia sendiri perintahkan pembangunannya di atas bukit Bantul. Ia menjadi penghuni pertama tempat itu, sebuah tempat yang hingga kini menjadi lokasi ziarah bagi keturunan kerajaan Mataram dari Yogyakarta maupun Surakarta.
Namanya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1975. Warisan yang paling terasa dalam kehidupan sehari-hari adalah kalender yang ia ciptakan. Setiap orang yang mengecek weton (hari kelahiran dalam perhitungan Jawa) sebelum pernikahan, setiap petani yang memilih hari tanam berdasarkan wuku, setiap keluarga yang menghitung hari pasaran untuk selamatan, sedang berdialog dengan pikiran Sultan Agung lintas empat abad.
Waktu, dalam tradisi Jawa, tidak meluncur lurus ke depan. Ia berputar, kembali, dan mengingatkan. Sultan Agung memahami itu dengan sangat dalam, dan ia memastikan putaran waktu itu membawa nama-nama yang kita kenali sampai sekarang.