Di sebuah rumah sederhana di Desa Karangtalun, Kabupaten Pacitan, tersimpan gulungan-gulungan kertas berusia ratusan tahun. Isinya bukan kitab suci, bukan pula arsip pemerintahan. Isinya adalah gambar. Gambar yang bercerita. Inilah wayang beber, bentuk wayang tertua yang pernah ada di Jawa, dan mungkin di seluruh Nusantara.
Ironinya, seni yang sudah menemani peradaban Jawa sejak abad ke-13 ini kini hanya dikenal oleh segelintir orang. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sesuatu yang menarik tengah terjadi: motif-motif wayang beber mulai muncul di atas kain batik dari Pacitan. Seni yang hampir punah itu sedang mencari, dan tampaknya mulai menemukan, cara hidupnya yang baru.
Seni Gulungan yang Lebih Tua dari Wayang Kulit
Kata "beber" dalam bahasa Jawa berarti membentangkan atau menggelar. Wayang beber adalah pertunjukan bercerita menggunakan gulungan gambar yang dibentangkan satu per satu di hadapan penonton. Tidak ada figur tiga dimensi, tidak ada bayang-bayang di layar putih. Yang ada hanya gambar datar, kuas, pigmen, dan suara dalang yang menuturkan cerita.
Menurut catatan sejarah yang dikutip oleh PHDI, wayang beber sudah ada sejak masa Kerajaan Jenggala pada 1223 M, awalnya digambar di atas daun lontar. Satu abad kemudian, pada masa Majapahit, setiap ujung lembaran gambar mulai dipasangi tongkat kayu agar lebih mudah dibentangkan dan digulung. Bentuk inilah yang masih bertahan hingga hari ini.
Ketika Islam masuk ke Jawa dan para Wali mulai memodifikasi seni pertunjukan agar sesuai dengan ajaran baru, wayang beber bertransformasi menjadi wayang kulit. Sosok tiga dimensi dari kulit yang disorot lampu blencong menggantikan gambar datar di atas kertas. Wayang kulit kemudian berkembang pesat dan menjadi identitas seni Jawa yang paling dikenal dunia.
Wayang beber tertinggal di belakang, hampir terlupakan.
Bagaimana Pertunjukan Wayang Beber Berlangsung
Pertunjukan wayang beber bukan pertunjukan yang bisa dinikmati secara kasual. Ia lahir dari konteks ritual. Masyarakat mengundang dalang wayang beber untuk hajatan pernikahan, tingkeban (selamatan kehamilan tujuh bulan), kelahiran, khitanan, hingga ritual kematian. Setiap pertunjukan adalah permohonan, rasa syukur, atau penghormatan kepada yang telah tiada.
Prosesinya dimulai dengan dalang membakar kemenyan. Asapnya dianggap sebagai medium komunikasi dengan dimensi lain. Setelah itu, dalang membuka kotak penyimpan gulungan, ampok, dan mengambil tiap gulungan sesuai urutan cerita. Gulungan pertama ditancapkan pada tongkat, lalu dibeberkan. Dalang berdiri membelakangi penonton, menghadap gambar, dan mulai menuturkan janturan, narasi yang menggambarkan suasana. Kemudian mengalun suluk, lagu penggambaran suasana batin. Baru setelah itu dimulailah dialog antar tokoh, yang disebut pocapan.
Cerita yang dibawakan bukan lagi Mahabharata atau Ramayana seperti di masa awal. Wayang beber Pacitan dan Gunungkidul membawakan kisah Panji, kisah percintaan Raden Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji dari Kerajaan Jenggala. Kisah Panji adalah siklus cerita asli Nusantara, lahir dari bumi Jawa sendiri, bukan adaptasi dari epos India. Inilah yang membuat wayang beber memiliki karakter yang sangat lokal dan intim.
Tersisa Dua Simpan, Ribuan Pertanyaan
Saat ini, wayang beber asli yang masih ada di Indonesia hanya dua set. Satu disimpan di Desa Karangtalun, Pacitan, dalam penjagaan keluarga turun-temurun. Satu lagi ada di Desa Gelaran, Gunungkidul, dijaga oleh Ki Supar. Keduanya sudah berusia ratusan tahun. Kertasnya rapuh. Pigmen warnanya memudar. Setiap kali gulungan dibentangkan, ada risiko kerusakan yang tidak bisa dipulihkan.
Tantangan kelestarian wayang beber tidak berhenti pada kondisi fisik gulungan itu saja. Hiburan modern mengikis minat generasi muda untuk belajar menjadi dalang wayang beber. Prosesi ritual yang panjang, kebutuhan pengetahuan mendalam tentang cerita Panji, dan sedikitnya penonton yang bisa mengapresiasi seni ini menjadi hambatan nyata. Yayasan Rumah Wayang Beber Karangtalun didirikan sebagai respons atas situasi ini, dengan menggulirkan program edukasi, workshop, dan produksi film dokumenter.
Batik sebagai Pintu Masuk yang Baru
Di sinilah titik pertemuan yang menarik terjadi. Sarah Rum Handayani, dosen Sastra dan Seni Rupa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, melihat potensi yang selama ini belum dimanfaatkan: Sarah Rum Handayani dan wayang beber. Sosok-sosok dalam kisah Panji, ornamen-ornamen khas gambar wayang beber dengan garis lengkungnya yang khas, bisa menjadi motif batik yang segar dan bermakna.
Pengembangan ini kemudian masuk ke industri batik Pacitan melalui dua produsen lokal, Batik Puri dan Batik Saji. Pacitan memang sudah lama dikenal sebagai sentra batik, dan kehadiran motif wayang beber memberi identitas yang lebih kuat pada batik daerah ini. Motif yang tadinya hanya bisa dilihat pada gulungan kertas rapuh kini bisa dipakai, dipajang, diekspor.
Pada Maret 2026, seorang seniman muda bernama Faris Wibisono menampilkan karya wayang beber yang ia buat dengan teknik sungging (melukis figur wayang dengan gradasi warna khas tradisi Jawa) di atas kertas daluang sebagai bagian dari Pameran Karya Budaya Bangsa. Generasi muda mulai kembali menengok ke arah seni yang hampir mereka lupakan. Batik adalah salah satu pintu yang membuka jalan pulang itu.
Satu Motif, Banyak Lapisan Makna
Yang membuat batik wayang beber lebih dari sekadar produk fashion adalah lapisan maknanya. Setiap tokoh dalam kisah Panji membawa karakter dan nilai: kesetiaan, kecerdikan, pengorbanan, kerendahan hati. Ketika motif itu dituangkan ke dalam kain batik, orang yang memakainya tidak hanya membawa selembar kain. Ia membawa sepotong narasi yang sudah berusia delapan abad.
Dalam tradisi batik Jawa, motif memang tidak pernah sekadar dekorasi. Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud mencatat bahwa cerita Panji adalah salah satu repertoar seni pertunjukan yang paling luas tersebar di Asia Tenggara, dari Jawa hingga Thailand dan Kamboja. Wayang beber adalah salah satu medium paling awal tempat cerita ini hidup. Batik wayang beber, dengan demikian, adalah keberlanjutan dari tradisi narasi yang sudah berjalan delapan abad. Setiap kain yang mengangkat motif Panji meneruskan apa yang pernah digambar di atas daun lontar.
Pelestarian yang Bergerak, Bukan yang Membeku
Ada sebuah perdebatan yang sering muncul dalam diskusi pelestarian budaya: apakah mengubah bentuk sebuah seni tradisional berarti mengkhianatinya? Apakah motif wayang beber yang dipindahkan ke kain batik masih "asli"?
Pertanyaan itu mungkin melewatkan fakta paling dasar tentang wayang beber itu sendiri. Seni ini telah berubah bentuk berkali-kali sepanjang delapan abad keberadaannya. Dari daun lontar ke kertas, dari cerita Mahabharata ke kisah Panji, dari konteks ritual murni ke pameran museum. Setiap perubahan adalah respons terhadap zamannya. Yang tidak berubah adalah inti naratifnya, keinginan untuk bercerita, keinginan untuk merawat kisah agar tidak hilang ditelan waktu.
Batik wayang beber adalah kelanjutan dari keinginan itu. Selama cerita Panji masih terurai di atas kain, selama tangan pengrajin masih menuangkan motif itu dengan canting dan malam, sesuatu dari Karangtalun tetap hidup dan berjalan.