Seorang anak duduk bersila di atas tikar putih pada tengah malam. Gamelan mengalun. Seorang dalang melantunkan cerita tentang Batara Kala, raksasa yang lapar dan mencari mangsanya. Lalu dalang itu berdiri, mengambil gunting, dan memotong sedikit rambut si anak.
Menurut kepercayaan Jawa, momen itu adalah momen perpindahan. Sukerta, beban spiritual yang membuat seseorang rentan terhadap malapetaka, berpindah dari si anak kepada dalang. Anak itu kini menjadi "anak dalang." Ia, menurut tradisi, sudah bebas.
Ritual ini namanya ruwatan. Dan selama berabad-abad, pertanyaan yang mengiringinya masih sama: apakah takdir memang bisa "dilepaskan"?
Sukerta dan Siapa yang Perlu Diruwat
Sukerta berasal dari kata Jawa yang berarti kotor atau terganggu secara spiritual. Dalam kepercayaan Jawa, sukerta adalah kondisi yang membuat seseorang rentan terhadap gangguan atau malapetaka. Kondisi itu bisa datang sejak lahir, bisa juga datang belakangan dalam perjalanan hidup.
Kondisi sukerta yang paling dikenal berkaitan dengan urutan dan komposisi saudara kandung. Anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga disebut ontang-anting. Anak perempuan satu-satunya disebut unting-unting. Dua anak dalam satu keluarga, satu laki-laki satu perempuan, disebut gedhana-gedhini. Ada juga julungwangi, anak yang lahir tepat saat matahari terbenam, dan pangayam-ayam, yang lahir di tengah hari. Daftar sukerta bisa sangat panjang; ada yang mencatat sampai puluhan kategori tergantung tradisi di masing-masing daerah.
Sukerta juga berlaku bagi orang dewasa. Seseorang yang mengalami kesialan berulang, sakit berkepanjangan, atau gagal dalam usaha demi usaha bisa dianggap menanggung sukerta. Ada pula sukerta yang dipandang berasal dari kesalahan berat: seseorang yang telah menyebabkan penderitaan bagi orang di sekitarnya, dan beban itu dianggap masih menempel padanya.
Lebih jauh lagi, sukerta dapat menempel pada tempat. Sebuah desa yang berulang kali ditimpa musibah, gagal panen, atau warganya terus sakit bisa dianggap menanggung semacam sukerta kolektif. Dari sini lahir ruwatan dalam skala yang jauh lebih besar dari satu orang dan satu keluarga. Dalam tradisi Jawa, ruwatan dibagi menjadi tiga lingkup: ruwatan untuk diri sendiri, ruwatan untuk lingkungan, dan ruwatan untuk wilayah.
Batara Kala dan Asal Usul Ritual Ruwatan
Batara Kala adalah putra Batara Guru, dewa tertinggi dalam mitologi Jawa. Ia lahir dari hasrat yang tak terkendali, tumbuh sebagai raksasa, dan suatu hari mendatangi ayahnya meminta makan. Batara Guru mengizinkannya memangsa manusia, tetapi hanya yang bersukerta.
Dari situlah ruwatan berakar. Tujuannya memutus ikatan antara seseorang yang bersukerta dengan Batara Kala melalui prosesi simbolis yang secara tradisi diakui sebagai "pembebasan." Kata ruwatan sendiri berakar dari luwar, yang berarti dilepas atau dibebaskan.
Kisah Batara Kala dibawakan dalam pertunjukan wayang khusus yang disebut Murwakala. Dalang yang memimpin ruwatan bukan dalang sembarang: ia harus menguasai lakon Murwakala dan memiliki pengetahuan ritual yang spesifik. Ruwatan yang dipimpin oleh dalang yang tidak kompeten dianggap tidak sah.
Prosesi Ruwatan dan Peran Dalang
Ruwatan individu berjalan dalam tiga fase. Sebelum ritual utama, keluarga menyiapkan sesaji, berpuasa, dan menggelar selamatan kecil sebagai pembuka. Persiapan ini setara pentingnya dengan prosesi utama. Persiapan adalah bagian dari ritual itu sendiri.
Fase utama adalah pertunjukan wayang Murwakala. Sepanjang malam, dalang membacakan mantra dan menceritakan lakon tentang pertemuan antara manusia sukerta dengan Batara Kala. Di tengah pertunjukan, dalang memotong sedikit rambut seseorang yang diruwat.
Pemotongan rambut itu adalah intinya. Setelah momen itu, orang yang diruwat secara simbolis menjadi anak dalang. Sukerta berpindah, tanggung jawab berpindah. Seperti yang tersebut dalam kajian makna simbolis dan pedagogis tradisi ruwatan yang diterbitkan oleh lembaga pendidikan Kemdikbud, tiap elemen prosesi membawa lapisan makna yang mengarah pada gagasan penyucian dan tanggung jawab kolektif.
Ritual ditutup dengan selamatan atau kajatan, makan bersama sebagai ungkapan syukur dan penanda bahwa proses sudah selesai.
Ruwat Bumi dan Ruwatan Agung
Ketika yang diruwat bukan satu orang melainkan satu komunitas, bentuk dan maknanya bergeser. Ruwat bumi adalah upacara pembersihan tanah dan lingkungan yang dilakukan secara kolektif. Tujuannya memohon keselamatan bumi, mengucap syukur atas panen, dan memperbaharui hubungan antara manusia dan alam tempat mereka hidup. Di banyak desa di Jawa Tengah dan Yogyakarta, ruwat bumi menjadi bagian dari kalender adat tahunan, digelar setelah musim panen dan disertai pertunjukan wayang semalam suntuk.
Di atas skala desa ada Ruwatan Agung, bentuk ruwatan yang ditujukan untuk kesejahteraan kolektif dalam lingkup lebih luas. Satu kota, satu wilayah, atau bangsa bisa menjadi objeknya. Ruwatan Agung sering digelar bertepatan dengan 1 Suro, tahun baru Jawa, sebagai momen introspeksi dan permohonan keselamatan bagi seluruh komunitas yang terlibat.
Ketiga skala ini saling terhubung. Dalam pandangan Jawa, gangguan pada satu orang bisa merembet ke keluarga, dari keluarga ke desa, dari desa ke alam sekitarnya. Ruwatan, dalam berbagai bentuknya, adalah cara manusia Jawa merespons gangguan itu sebelum ia terlanjur meluas.
Ruwatan, Pepesthen, dan Pertanyaan Soal Takdir
Tradisi Jawa mengenal pepesthen, ketetapan Tuhan yang tidak bisa dibatalkan oleh siapapun. Dalam falsafah Jawa, takdir bukan sesuatu yang ditentang atau disiasati. Lantas bagaimana ruwatan bisa ada di dalam sistem kepercayaan ini?
Jawabannya ada di mekanisme ritual itu sendiri. Sukerta berpindah tangan: dari orang yang diruwat kepada dalang. Dalang yang memimpin upacara, dengan kesadaran penuh, bersedia menanggung beban itu. Orang yang diruwat memikul sukertanya kepada seseorang yang dianggap mampu menanggungnya.
Ada logika kasih dalam struktur ini. Seseorang yang lebih kuat berdiri di depan dan berkata: biarkan aku yang membawa beban ini. Orang yang diruwat bebas karena ada seseorang yang memilih menanggung sukertanya.
Ruwatan, dalam pandangan itu, adalah cara manusia Jawa membayangkan solidaritas sebagai kekuatan.
Ruwatan Masih Dilangsungkan
Ruwatan masih berlangsung hingga kini. Pada Mei 2025, komunitas Pasar Kumandhang menggelar ruwatan di lereng Gunung Merapi yang dipimpin dalang Ki Suwanda. Awal Mei 2026, Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta berpartisipasi dalam Ruwatan Bumi Pala di kawasan Kledhung Pass, Temanggung. Di Gunungkidul, ruwatan menjadi bagian tetap dari ritual rasulan tahunan, dengan dalang ruwat Ki Ngatiyo yang memimpin prosesi dari generasi ke generasi.
Ada juga ruwatan massal. Pepadi DKI Jakarta menyelenggarakan ruwatan massal pada Mei 2025, membuktikan bahwa ritual ini menemukan bentuk barunya di luar konteks desa dan keluarga tunggal. Dalam ruwatan massal, banyak orang sukerta dari berbagai keluarga diruwat bersama dalam satu malam, dengan biaya yang ditanggung bersama.
Skala berubah. Konteks berubah. Tapi inti prosesinya tetap: seorang dalang, sebuah pertunjukan Murwakala, sepasang gunting, dan seseorang yang duduk menunggu.
Ritual ini bertahan karena menawarkan sesuatu yang melampaui satu kepercayaan: cara untuk melewati rasa takut akan nasib buruk, disaksikan oleh komunitas, dipandu seseorang yang kompeten, dan ditandai dengan tindakan yang konkret.