Tahun 1927, Keraton Yogyakarta mengeluarkan peraturan tertulis bernama Rijksblad van Djokjakarta. Isinya mengatur pakaian keprabon: siapa boleh memakai motif batik apa, di upacara mana, dan seberapa besar pola boleh dilukiskan pada sehelai kain.

Tiga motif yang mendapat pengaturan paling ketat di sana adalah kawung, parang, dan udan liris. Di Keraton Yogyakarta, kepercayaan bahwa motif batik memancarkan kekuatan sesuai maknanya sudah tertulis dalam regulasi. Peraturan 1927 itu mempertegas sesuatu yang sudah dipraktikkan jauh sebelumnya.

Kawung berbicara tentang tatanan semesta. Parang tentang kekuasaan. Udan liris tentang keselarasan manusia dengan alam. Tiga cara pandang berbeda, tiga cara Jawa membaca dunia.

Kawung dan Semesta yang Tersusun Rapi

Nama kawung diambil dari buah pohon aren. Bijinya dikenal sebagai kolang-kaling, buah putih lonjong yang biasa dijual di pasar dalam keadaan direbus. Orang Jawa tidak meniru bentuk luarnya. Mereka mengambil penampang irisan melintangnya: empat ruang biji yang tersusun simetris di sekitar satu titik pusat.

Dari sana lahirlah motif kawung. Empat lingkaran lonjong yang saling bersentuhan di satu titik, berulang tanpa henti ke segala arah. Satu unit motif mewakili empat penjuru arah mata angin. Ketika diulang di seluruh permukaan kain, ia menciptakan gambaran semesta yang tertib dari pusat ke tepian terluar.

Motif ini sudah dikenal sejak masa Mataram Kuno, diduga sejak abad ke-13. Beberapa ahli menduga pola serupa kawung sudah terukir pada relief candi-candi di Jawa Tengah jauh sebelum batik mengenalnya. Di masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645), kawung mendapat tempat formal di lingkungan keraton. Di Keraton Yogyakarta, hanya para Sentana Dalem, anggota keluarga kerajaan, yang berhak mengenakannya.

Ada interpretasi kawung yang paling jarang masuk ke percakapan sehari-hari: motif ini terhubung dengan kata Jawa suwung, yang berarti kosong dari nafsu dan hasrat duniawi. Pemimpin yang memakai kawung, dalam pandangan ini, adalah pemimpin yang telah mengosongkan diri dari kepentingan pribadi sebelum memegang kekuasaan.

Kawung hadir dalam tiga varian berdasarkan ukuran lingkarannya. Kawung picis menggunakan pola terkecil, seukuran koin picis. Kawung bribil lebih besar, dan kawung sen yang paling besar. Ukuran berubah, gagasan di baliknya bertahan.

 

Parang dan Kekuasaan yang Lahir dari Ombak

Parang lahir dari pertapaan. Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram, sering menyepi di pesisir selatan Jawa. Di sana ia menyaksikan tebing-tebing yang dihantam ombak Samudra Hindia tanpa henti, pereng yang rusak tapi tidak runtuh. Dari pemandangan itu lahirlah motif parang rusak.

Bentuk dasarnya adalah huruf S yang berulang dalam barisan diagonal. Garis-garis itu melambangkan ombak. Dalam kosmologi Jawa, Laut Selatan dipercaya menyimpan kekuatan yang dihormati oleh raja-raja Mataram. Bahwa Panembahan Senopati memilih menyepi di sana mengandung makna tersendiri: kekuasaan yang sah lahir dari keselarasan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.

Aturan penggunaan parang sangat terperinci. Parang Rusak Barong dengan ukuran pola lebih dari 10 sentimeter hanya boleh dikenakan oleh sultan dan putra mahkota. Makin kecil ukurannya, makin luas kalangan yang diizinkan. Ketentuan ini menegaskan satu gagasan: kekuasaan bertingkat, dan setiap tingkatan membawa tanggung jawab yang berbeda.

Sultan Agung kemudian menciptakan varian Parang Rusak Barong untuk mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja. Kewibawaan di hadapan rakyat, kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta. Dalam satu motif, dua kesadaran itu hidup bersamaan.

Di keraton, parang sering dikenakan pada upacara-upacara besar sebagai simbol keberanian dan keteguhan. Sejarah panjangnya sebagai batik larangan keraton tercatat dalam arsip Museum Sonobudoyo Yogyakarta, salah satu lembaga yang paling konsisten mendokumentasikan warisan tekstil Jawa.

Udan Liris dan Cara Jawa Membaca Hujan

Nama udan liris berarti hujan gerimis. Motifnya terdiri dari garis diagonal tipis yang tersela ornamen kecil berulang secara teratur, seperti tetesan air yang turun pelan dan konsisten selama berjam-jam.

Dalam pandangan Jawa, gerimis punya karakter yang berbeda dari hujan deras. Hujan deras datang lalu pergi. Gerimis bertahan. Ia meresap lebih dalam dan lebih lama. Motif udan liris membawa sifat itu ke dalam kain: kesabaran dan kehadiran yang tidak memaksa.

Gerimis dan sawah punya hubungan yang terlihat di setiap musim tanam. Gerimis cukup untuk mengairi tanah tanpa merobohkan bibit padi yang baru tumbuh. Ada kearifan pertanian yang ikut terjalin dalam nama udan liris, meski motif ini lahir dari lingkungan keraton.

Udan liris termasuk dalam kelompok batik larangan di Keraton Yogyakarta, motif yang penggunaannya terikat aturan di lingkungan istana. Berbeda dari parang yang diasosiasikan dengan kewibawaan dan gerak, udan liris lebih dikaitkan dengan ketenangan dan kesempurnaan jiwa. Ia adalah kain yang lebih sering berbisik dari pada berteriak.

Kawung, parang, dan udan liris masing-masing menyelesaikan satu sisi dari percakapan panjang tentang bagaimana manusia Jawa membayangkan hubungannya dengan semesta.

Bahwa filsafat sebesar itu bisa dirajut ke dalam kain lalu dikenakan ke tubuh manusia, itulah yang membuat batik Jawa tidak pernah habis untuk dibaca.