Di pita yang digenggam Garuda Pancasila, tertulis tiga kata yang sudah akrab sejak kecil: “Bhinneka Tunggal Ika”. Tapi siapa yang pertama menuliskan kalimat itu? Jawabannya tersimpan dalam sebuah karya sastra abad ke-14 dari jantung Kerajaan Majapahit, ditulis oleh seorang pujangga bernama Mpu Tantular.
Siapa Sebenarnya Mpu Tantular?
Mpu Tantular adalah pujangga besar dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit yang hidup pada abad ke-14 Masehi. Ia dikenal sebagai seorang Brahmana Buddhist yang sangat terbuka terhadap keberagaman agama. Keyakinan itu tidak ia sembunyikan, melainkan ia tuangkan langsung ke dalam karya-karya sastranya.
Nama “Tantular” sendiri menyimpan makna yang dalam. Dalam bahasa Jawa Kuno, “tan” berarti tidak dan “tular” berarti terpengaruh. Tantular bisa diartikan sebagai “teguh pendirian” atau “tidak mudah goyah”. Nama itu mencerminkan jati dirinya: seorang pemikir yang tetap berpijak pada nilai toleransi, di tengah masyarakat yang plural sekalipun.
Kehidupan Sosial dan Budaya di Era Majapahit
Untuk memahami karya-karya Mpu Tantular, kita perlu melihat dulu konteks zaman di mana ia hidup. Era Majapahit adalah masa keemasan dalam sejarah Nusantara. Dalam masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang didampingi Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak kemakmuran dan pengaruhnya menjangkau jauh melampaui Pulau Jawa.
Keberagaman Agama di Majapahit
Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang multikultur. Di sana tinggal warga dari berbagai latar belakang agama: Hindu, Buddha, dan aliran kepercayaan lokal. Interaksi budaya antara etnis Jawa dengan pendatang dari India, Tiongkok, hingga Arab menjadikan Majapahit sebagai salah satu pusat peradaban Asia Tenggara kala itu.
Dalam keberagaman itulah Mpu Tantular bersuara. Ia percaya bahwa perbedaan agama dan kepercayaan bukan alasan untuk berseteru, melainkan sebuah kenyataan yang harus dihadapi dengan saling menghormati. Masyarakat yang menghargai perbedaan, baginya, adalah masyarakat yang bisa hidup damai dan saling melengkapi.
Warisan Sastra dari Era Kejayaan Majapahit
Majapahit tidak hanya berjaya secara militer dan politik. Era ini juga merupakan masa keemasan dalam sastra Jawa Kuno. Banyak pujangga besar lahir di masa ini, dan karya-karya mereka menjadi rujukan penting dalam studi sejarah dan kebudayaan Nusantara hingga kini. Tradisi pujangga besar yang mengabdikan diri pada sastra dan filsafat ini terus berlanjut berabad-abad kemudian, antara lain lewat karya Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama.
Dua Karya Besar Mpu Tantular
Dari tangan Mpu Tantular, lahir dua karya kakawin (puisi epik berbahasa Jawa Kuno) yang bertahan melewati berabad-abad. Yang pertama adalah Arjunawijaya, yang mengisahkan kepahlawanan Arjuna melawan raja raksasa Niwatakawaca, sarat nilai kesatria dan kebajikan. Yang kedua adalah Sutasoma, karya paling berpengaruhnya. Lewat Sutasoma, ia menyampaikan filosofi kehidupan, moralitas, dan pesan toleransi antar umat beragama. Dari sinilah frasa “Bhinneka Tunggal Ika” berasal.
Sutasoma dan Lahirnya Bhinneka Tunggal Ika
Kakawin Sutasoma ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum Jawa Kuno, dan menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah sastra dan pemikiran di Nusantara. Naskah aslinya kini tersimpan di beberapa koleksi, termasuk di Museum Nasional Indonesia. Karya ini mengisahkan tentang Pangeran Sutasoma, seorang putra raja yang melepaskan kekuasaan dan memilih jalan spiritual. Dalam pengembaraannya, ia terus memperjuangkan kebenaran, kasih sayang, dan perdamaian, bahkan di hadapan ancaman yang paling menakutkan sekalipun.
Makna Bhinneka Tunggal Ika
Kalimat “Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa” muncul dalam Kakawin Sutasoma. Diterjemahkan secara bebas, kalimat ini berarti “Berbeda-beda namun tetap satu jua, tidak ada kebenaran yang mendua”. Di sini, “Bhinneka” berarti berbeda-beda atau beraneka ragam, sementara “Tunggal Ika” berarti satu jua.
Frasa ini ditegaskan oleh Mpu Tantular dalam konteks perbedaan antara agama Buddha dan Siwa (Hindu). Ia menyatakan bahwa meskipun berbeda dalam wujud, hakikatnya keduanya menuju kebenaran yang sama: Dharma. Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai kearifan Jawa yang lebih luas, seperti Hamemayu Hayuning Bawana, filsafat tentang menjaga keselarasan semesta yang tumbuh dalam tradisi yang sama.
Relevansi di Masa Kini
Mpu Tantular mungkin hidup lebih dari 600 tahun yang lalu, tapi pesan-pesan dalam Sutasoma tetap relevan hingga hari ini. Di tengah masyarakat modern yang penuh perbedaan suku, agama, dan budaya, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi pengingat agar kita terus menjaga persatuan dan menghormati perbedaan.
Dari Kakawin ke Lambang Negara
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, para pendiri bangsa sepakat mengangkat frasa “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan resmi negara. Semboyan ini dianggap mencerminkan semangat kebhinekaan Indonesia sebagai negara yang terdiri dari ratusan etnis, bahasa, dan kepercayaan, namun tetap satu dalam semangat nasionalisme.
Pilihan itu juga menunjukkan apresiasi besar terhadap warisan budaya bangsa. Dengan mengambil semboyan dari teks kuno seperti Kakawin Sutasoma, Indonesia menegaskan bahwa nilai-nilai luhur dari masa lalu tetap bisa menjadi sumber inspirasi bagi masa kini dan masa depan.
Warisan Abadi Mpu Tantular
Mpu Tantular adalah tokoh pemikir yang membawa pesan damai di tengah kemajemukan, yang mampu mengekspresikan nilai-nilai universal melalui karya sastranya. Berkat Sutasoma dan gagasannya tentang Bhinneka Tunggal Ika, ia meninggalkan warisan yang melampaui zamannya.
Di era sekarang, ketika tantangan terhadap keberagaman semakin besar, pesan-pesan dari Mpu Tantular layak untuk terus direnungkan. Toleransi, saling menghargai, dan rasa persatuan adalah benang merah yang harus terus kita jaga, sebagaimana yang pernah diimpikan oleh sang pujangga Majapahit ini.
Jadi, setiap kali kamu melihat lambang Garuda Pancasila dan membaca semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, ingatlah bahwa ada seorang pujangga dari abad ke-14 bernama Mpu Tantular yang pernah mengajarkan kepada kita bahwa dalam perbedaan pun, kita tetap satu.