Setiap malam dari hari Senin hingga Sabtu, lampu panggung di sudut Taman Sriwedari, Solo, menyala. Penonton datang, duduk, dan dalam dua jam berikutnya mereka menyaksikan Arjuna bertempur, Srikandi melepas panah, atau Bima membanting raksasa dengan kedua tangannya. Pertunjukan ini sudah berlangsung sejak 1910 hingga sekarang.

Lahir dari Kebun Raja

Wayang Orang adalah seni pertunjukan di mana kisah-kisah pewayangan dibawakan oleh manusia, bukan boneka. Para pemainnya mengenakan kostum dan rias wajah yang ketat mengikuti pakem Surakarta, bergerak dengan tata gerak tari yang disebut joged, dan berdialog dalam bahasa Jawa bertingkat.

Sriwedari dulunya taman hiburan milik Keraton Kasunanan Surakarta, dibangun oleh Susuhunan Pakubuwana X pada akhir abad ke-19. Taman ini punya koleksi binatang, wahana, dan arena pertunjukan. Di sinilah, pada 1910, wayang orang untuk pertama kali dipentaskan secara rutin untuk publik umum, bukan hanya untuk kalangan istana.

Keputusan itu punya dampak panjang. Seni yang sebelumnya hanya dinikmati di dalam tembok keraton kini bisa ditonton siapa saja yang mampu membeli tiket masuk.

Penjaga Gaya Surakarta

Ada beberapa gaya dalam pertunjukan wayang orang Jawa, dan gaya Surakarta punya karakteristik tersendiri. Gerakannya cenderung lebih halus dibanding gaya Yogyakarta, kostumnya mengikuti konvensi warna dan motif tertentu untuk setiap karakter, dan dialog antar tokoh mengikuti tingkatan bahasa Jawa yang ketat: tokoh raja bicara dalam krama inggil, punakawan bicara dalam ngoko.

Wayang Orang Sriwedari adalah satu-satunya rombongan yang masih mempertahankan gaya ini dalam jadwal pertunjukan tetap dan rutin. Setiap minggu, sepanjang tahun.

Para pemainnya pun nggak kaleng-kaleng. Banyak yang sudah pentas di sini selama puluhan tahun, mewarisi peran dari generasi sebelumnya. Ada pemain yang menghabiskan seluruh karier artistiknya di panggung yang sama.

Krisis yang Datang Berulang

Bertahan lebih dari satu abad bukan berarti bertahan tanpa luka.

Konflik hak tanah atas kawasan Taman Sriwedari menjadi beban yang paling berat. Sengketa antara Pemerintah Kota Surakarta dan ahli waris dari keluarga keraton berlangsung selama puluhan tahun. Keputusan pengadilan berganti arah berkali-kali. Para seniman yang bergantung pada panggung ini hidup dalam ketidakpastian yang tidak pernah sepenuhnya selesai.

Jumlah penonton juga berubah. Pada era 1970-an dan 1980-an, gedung pertunjukan bisa penuh sesak. Generasi yang tumbuh bersama televisi, lalu internet, punya lebih banyak pilihan hiburan. Penonton muda yang datang ke Sriwedari kini sering lebih sedikit dari kursi yang tersedia.

Tapi panggung itu tidak pernah gelap.

Satu Pengalaman Tak Terlupakan

Duduk di kursi penonton Sriwedari adalah pengalaman yang sulit disamakan dengan rekaman video atau siaran digital. Ada yang berbeda ketika gamelan ditabuh langsung dari sisi kiri panggung, ketika bau dupa tipis memenuhi ruangan, ketika gending pembuka mengalun dan lampu sorot menerangi wajah-wajah yang sudah dirias sejak sore hari.

Pelawak yang mengisi adegan gara-gara kadang membawa humor yang sangat kontemporer, komentar tentang harga bahan pokok atau situasi politik terkini, diselipi dalam dialog antara Semar dan Gareng. Penonton tua tertawa. Penonton muda yang kebetulan datang, tertawa juga.

Seni pertunjukan yang hidup menyesuaikan diri dengan zamannya.

Menjaga yang Tersisa

Kekhawatiran yang paling sering disampaikan oleh para seniman senior Sriwedari bukan soal tanah atau penonton, melainkan soal regenerasi. Belajar menjadi pemain wayang orang bergaya Surakarta membutuhkan waktu bertahun-tahun. Teknik gerak, hafalan suluk dan dialog, penguasaan bahasa Jawa dalam berbagai tingkatan, semua itu tidak bisa dipercepat.

Sekolah Menengah Kejuruan seni di Solo memang mencetak lulusan seni tari dan karawitan. Tapi jalur dari bangku sekolah ke panggung Sriwedari yang berkelanjutan masih perlu diperkuat. Direktorat Kebudayaan Kemendikbud mencatat wayang orang sebagai salah satu warisan budaya tak benda yang memerlukan perhatian aktif dalam hal pewarisan dan dokumentasi.

Perhatian itu perlu diikuti dengan langkah konkret dari berbagai pihak.

Panggung yang Masih Berbicara

Ada sesuatu yang penting dalam kenyataan bahwa pertunjukan ini masih ada. Bukan sebagai atraksi wisata yang dikemas ulang, tapi sebagai pertunjukan rutin dengan repertoar penuh, dengan pemain yang telah mengabdikan hidupnya pada seni ini, dengan penonton yang masih mau datang.

Wayang Orang Sriwedari adalah bukti bahwa seni tradisi bisa bertahan bukan karena dilindungi di dalam kotak kaca, tapi karena terus dimainkan, terus ditonton, dan terus bernapas di atas panggung.