Tahun 1755, Perjanjian Giyanti membelah Mataram menjadi dua. Di satu sisi, Hamengkubuwono I mendirikan Keraton Yogyakarta. Di sisi lain, Paku Buwono III mempertahankan Keraton Surakarta. Pembelahan politik itu melahirkan dua pusat kebudayaan yang bersaudara, saling berbeda dalam detail, namun berakar pada ranah yang sama.
Ranah itu adalah tradisi Mataraman, warisan budaya kerajaan Mataram Islam yang selama ini menjadi tulang punggung peradaban Jawa Tengah.
Dua Istana, Dua Karakter
Keraton Surakarta Hadiningrat berdiri di kota yang dulunya bernama Sala, di tepi Bengawan Solo. Keraton Yogyakarta Hadiningrat dibangun beberapa puluh kilometer ke barat, menghadap Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan di selatan.
Orientasi geografis ini bukan kebetulan. Setiap keraton menempatkan dirinya dalam kosmologi Jawa yang sudah lama mapan, di mana raja berdiri di titik temu antara langit dan bumi.
Karakter keduanya tumbuh berbeda. Solo dikenal lebih alus, halus dalam setiap gestur. Tari-tariannya cenderung lambat dan meditatif. Batiknya kaya motif klasik dengan palet sogan yang hangat.
Yogya berkembang dengan watak yang lebih tegas, sedikit lebih keras dalam ritme, dan dikenal lewat tradisi perlawanan yang mengakar sejak zaman Sultan Agung. Keduanya tetap Jawa, dengan penampakan yang berbeda.
Keraton Sebagai Lembaga Budaya
Kedua keraton ini bukan sekadar museum hidup atau destinasi wisata. Mereka adalah institusi pelestarian yang masih aktif bekerja.
Di Keraton Surakarta, lembaga Sasana Pustaka menyimpan ribuan naskah kuno berbahasa Jawa, termasuk salinan Serat Centhini dan berbagai primbon. Naskah-naskah ini adalah ensiklopedia peradaban Jawa yang ditulis tangan, berisi segala hal dari kosmologi hingga cara menanam padi yang baik. Tanpa keraton, banyak dari dokumen ini mungkin sudah lenyap.
Keraton Yogyakarta menjalankan fungsi serupa melalui berbagai unit pelestarian seni. Abdi dalem, para pelayan keraton, adalah pengampu tradisi: penari, pengrawit gamelan, pembuat batik, dalang. Sistem ini menjaga rantai transmisi pengetahuan budaya tetap hidup dari generasi ke generasi.
Sekaten dan Garebeg, Kalender Budaya yang Masih Berdenyut
Dua kali setahun, kedua keraton menggelar Sekaten, perayaan Maulid Nabi yang akarnya sudah berusia ratusan tahun. Gamelan sekati yang hanya dikeluarkan pada momen ini dimainkan di halaman masjid agung, siang dan malam selama sepekan.
Suara gamelan sekati berbeda dari gamelan biasa. Nadanya lebih berat, lebih lambat, seperti bumi sedang berbicara. Ribuan orang berdatangan, sebagian untuk ziarah spiritual, sebagian untuk pasar malam yang ramai di sekitar alun-alun.
Puncaknya adalah Garebeg, prosesi gunungan dari keraton ke masjid agung. Gunungan adalah tumpukan hasil bumi berbentuk gunung yang diperebutkan warga begitu tiba di halaman masjid. Ritual ini adalah pernyataan kosmologis bahwa raja bertanggung jawab atas kesuburan tanah dan kesejahteraan rakyatnya.
Batik, Gamelan, dan Tari: Tiga Sendi yang Sama
Batik keraton, baik Solo maupun Yogya, menggunakan motif yang lahir dari lingkungan istana. Parang, kawung, sidomukti: motif-motif ini punya hierarki pemakaian yang ketat. Ada motif yang hanya boleh dipakai raja, ada yang untuk bangsawan, ada yang untuk rakyat biasa. Batik adalah bahasa visual kekuasaan dan tatanan sosial.
Gamelan yang berkembang di kedua keraton merupakan turunan langsung dari tradisi Mataram. Meski ada perbedaan teknis antara gamelan gaya Solo dan Yogya, kerangka dasar laras (tangga nada), pathet (modus musikal), dan repertoar gending, komposisi musik gamelan, berasal dari pohon yang sama.
Tari klasik Jawa menyimpan logika serupa. Bedhaya dan Srimpi adalah tarian keraton yang paling sakral. Gerakannya dihitung, setiap perpindahan posisi tangan punya makna. Pertunjukan Bedhaya Ketawang di Keraton Surakarta bahkan dianggap sebagai peristiwa spiritual, bukan semata hiburan.
Ketegangan yang Produktif
Selama lebih dari 250 tahun, kedua keraton hidup berdampingan dalam persaingan halus. Persaingan ini tidak selalu nyaman, tapi ia menghasilkan sesuatu yang berharga: dua versi tradisi Mataraman yang terus diasah dan diperdebatkan.
Para seniman tari berdebat soal gaya mana yang lebih "benar". Para pengrawit membandingkan interpretasi gending. Para pembuat batik beradu kualitas canting. Ketegangan ini memaksa kedua keraton untuk tidak berhenti berkembang, untuk terus mempertahankan standar yang tinggi.
Warisan Mataraman hidup justru karena ia diperebutkan, bukan karena ia dibiarkan membeku.
Hari ini, ketika kita menyaksikan pertunjukan wayang semalam suntuk di Yogya, atau melihat prosesi pernikahan adat gaya Solo, atau mendengar tembang macapat dinyanyikan di serambi keraton, kita sedang menyaksikan sebuah proyek peradaban yang tidak pernah selesai. Dua keraton, satu percakapan panjang tentang apa artinya menjadi Jawa.