Jam menunjukkan pukul 01.00. Di gardu ronda sebuah kampung di pinggiran Yogyakarta, tiga bapak paruh baya duduk mengitari termos kopi. Kursi-kursi lain kosong. Giliran anak muda malam ini, tapi tidak ada yang datang.

Cerita seperti ini bukan cerita satu kampung. Hampir setiap RT di kota-kota Jawa punya versi yang sama: jadwal ronda yang terlewat, pesan grup yang tidak dibaca, atau alasan kerja shift yang sah tapi terasa seperti pengulangan setiap minggu.

Apa Itu Tepa Slira

Tepa slira adalah konsep Jawa tentang kemampuan merasakan apa yang orang lain rasakan, lalu menyesuaikan tindakan berdasarkan kesadaran itu. Kata tepa berarti ukuran atau takaran, slira berarti diri atau badan orang lain. Gabungannya: mengukur dirimu dari sudut pandang orang lain.

Konsep ini adalah fondasi cara orang Jawa membaca situasi sosial. Sebelum berbicara, seseorang diharapkan sudah membayangkan bagaimana kata-katanya akan mendarat di telinga orang yang mendengar. Sebelum absen dari kewajiban komunal, ia seharusnya sudah membayangkan beban yang akan ditanggung orang yang tersisa.

Ronda adalah salah satu arena paling konkret tempat tepa slira diuji. Kalau kamu tidak datang, ada orang lain yang harus menanggung jam jaga yang harusnya milikmu.

Kenapa Anak Muda Tidak Datang

Jawaban yang paling jujur: kehidupan mereka memang sudah berubah bentuk.

Banyak anak muda di kota bekerja dengan jam yang tidak normal. Driver ojek online aktif hingga tengah malam. Karyawan startup sering masuk pagi dan pulang larut. Freelancer mengerjakan proyek untuk klien di zona waktu berbeda. Tubuh yang baru pulang pukul 23.00 sulit diminta berjaga sampai pukul 02.00.

Ada juga yang tinggal di kampung tapi bukan orang kampung itu. Mereka kontrak kamar, bekerja, lalu pindah. Ikatan sosial mereka tipis karena memang tidak punya waktu untuk membangunnya. Ronda terasa seperti kewajiban komunitas yang belum pernah benar-benar mereka masuki.

Dan ada yang lebih susah diucapkan: sebagian anak muda merasa ronda sudah tidak relevan. Keamanan kini ditopang CCTV, aplikasi pelaporan warga, dan respons polisi yang lebih cepat. Pertanyaan "apa gunanya ronda?" bukan pertanyaan malas. Kadang itu pertanyaan yang wajar.

Yang Hilang Bersama Ketidakhadiran Itu

Ronda bukan hanya tentang keamanan. Ia adalah ritual guyub, kebersamaan yang tumbuh bukan karena ada acara, tapi karena ada jadwal yang harus ditepati bersama.

Di gardu ronda, percakapan terjadi tanpa agenda. Seseorang bisa tahu bahwa tetangganya baru kehilangan pekerjaan, atau bahwa ada keluarga yang sedang sakit dan butuh bantuan. Informasi semacam ini tidak akan muncul di grup WhatsApp RT yang isinya hanya pengumuman iuran dan tautan berita.

Tepa slira tidak bisa tumbuh dari kejauhan. Ia butuh kedekatan fisik, waktu yang terbuang bersama, dan kesediaan untuk hadir meski tidak ada yang memaksamu. Di era modernisasi, justru kondisi-kondisi itulah yang paling cepat terkikis.

Soal yang Lebih Besar dari Sekadar Hadir atau Tidak

Perdebatan ronda sering terjebak di permukaan: yang muda dianggap tidak peduli, yang tua dianggap tidak mau mengerti zaman. Keduanya menangkap sebagian kebenaran, tapi melewatkan intinya.

Tepa slira berlaku dua arah. Generasi yang lebih tua juga bisa bertanya pada diri sendiri: apakah sistem ronda yang dirancang 30 tahun lalu masih bisa dipertahankan bentuknya persis sama? Apakah ada cara lain untuk menjaga harmoni sosial tetap hidup meski formatnya berubah?

Beberapa kampung sudah mencoba menjawab pertanyaan itu. Ada yang membagi shift ronda menjadi lebih pendek, 1 jam per orang, agar lebih mudah dimasukkan ke jadwal padat. Ada yang membuat sistem "pengganti ronda" lewat iuran sukarela untuk menyewa keamanan tambahan, tapi tetap mewajibkan kehadiran minimal sebulan sekali. Hasilnya tidak sempurna, tapi percakapannya dimulai.

Tepa Slira di Tengah Perubahan Sosial

Filosofi tepa slira tidak akan usang hanya karena gardu ronda semakin sepi. Yang bisa usang adalah cara kita menerjemahkannya ke dalam praktik.

Anak muda yang absen dari ronda karena kelelahan kerja bukan otomatis orang yang kehilangan tepa slira. Tapi absen tanpa pernah menawarkan solusi pengganti, tanpa pernah bertanya apa yang bisa ia lakukan sebagai gantinya, itu yang jadi masalah.

Tepa slira meminta kita untuk tidak pernah berhenti merasakan bahwa tindakan kita, atau ketidakhadiran kita, selalu punya konsekuensi bagi orang lain. Kesadaran itulah yang perlu dijaga, bahkan lebih dari jadwal ronda itu sendiri.

Tiga bapak di gardu ronda itu mungkin tidak butuh lebih banyak teman untuk begadang. Mereka butuh tahu bahwa tetangga-tetangga mudanya masih peduli, dengan cara apapun yang mereka bisa.

Harmoni sosial di era modernisasi tidak hilang karena teknologi berubah. Harmoni itu goyah ketika kesadaran untuk saling merasakan itu yang mulai berhenti.