Ada sebuah pohon di Pulau Karimunjawa yang tiap tahun kedatangan peziarah dari berbagai penjuru Jawa. Mereka duduk, menunggu, berharap selembar daun jatuh dan menyentuh tubuh mereka. Pohon itu bernama dewandaru, dan cerita tentangnya selalu berakhir dengan satu narasi: siapa yang kejatuhan daunnya, hidupnya akan berubah.
Cerita seperti ini terbangun dari kesaksian nyata, nama-nama yang bisa disebut, dan kejadian yang memang benar terjadi. Di sinilah mitos bekerja dengan sangat rapi.
Pohon dengan Beban Makna
Dewandaru dalam bahasa Jawa bisa diurai menjadi dua kata: dewa dan ndaru, yang merujuk pada cahaya atau bintang jatuh yang dipercaya membawa wahyu. Nama itu sendiri sudah menyimpan harapan.
Pohon dewandaru (Eugenia uniflora) tumbuh di kompleks makam Sunan Nyamplungan di Karimunjawa, tokoh yang dipercaya sebagai penyebar Islam pertama di kepulauan itu. Kehadiran pohon ini di tanah yang sudah sakral membuat ia menanggung berlapis-lapis kepercayaan. Pohonnya tua. Arealnya wingit, terasa berat dan penuh kekuatan gaib yang membuat orang tak berani sembarangan di sekitarnya.
Dalam tradisi spiritual Jawa, tempat yang keramat, artinya dimuliakan karena dianggap memiliki kekuatan yang melampaui yang biasa, adalah tempat di mana batas antara dunia sehari-hari dan dunia yang lebih dalam terasa tipis. Pohon dewandaru di Karimunjawa termasuk area tepi batas itu, dan kepercayaan tentang daunnya tumbuh dari konteks yang jauh lebih luas dari sekadar "pohon pembawa rejeki."
Matematika yang Tidak Pernah Diperhitungkan
Bayangkan skenario ini. Seribu orang datang ke bawah pohon dewandaru dalam satu tahun. Mereka duduk berjam-jam, ada yang bermalam, ada yang datang berkali-kali. Secara statistik, beberapa orang pasti kejatuhan daun, karena daun memang gugur setiap hari.
Dari seribu orang itu, katakanlah 20 orang kejatuhan daun. Dari 20 orang itu, mungkin 2 orang mengalami perubahan nasib yang signifikan dalam setahun berikutnya: bisnisnya maju, lamarannya diterima, utangnya lunas.
Dua orang ini akan bercerita. Cerita mereka akan diulang, diperkuat, dan akhirnya menjadi bukti.
Tapi 18 orang lainnya yang kejatuhan daun dan hidupnya tidak berubah? Mereka diam. Dan 980 orang yang tidak kejatuhan daun sama sekali? Mereka pulang tanpa cerita yang layak dibagikan. Ingatan kolektif kita memang bekerja seperti itu: hanya menyimpan yang dramatis.
Dalam psikologi, ini disebut kecenderungan konfirmasi, yaitu kebiasaan mengingat bukti yang mendukung kepercayaan kita dan mengabaikan yang tidak. Mitos dewandaru bertahan bukan karena ia terbukti, tapi karena kita tidak pernah benar-benar menghitung semua orang yang pulang dengan tangan kosong.
Mitos Bukan Soal Akurasi
Tradisi Jawa tidak pernah bermaksud menawarkan bukti empiris. Ia menawarkan kerangka untuk menghadapi ketidakpastian.
Orang Jawa punya konsep nrimo ing pandum, menerima apa yang sudah menjadi bagian hidup seseorang dengan lapang dada. Ada juga dorongan untuk ngalap berkah, mencari berkah dari tempat dan figur yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Keduanya bisa hidup berdampingan. Ziarah ke pohon dewandaru, dalam banyak kasus, adalah cara seseorang mengangkat bebannya ke sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Ritual menunggu di bawah pohon, berdiam diri, mengosongkan pikiran dari tuntutan sehari-hari, secara tidak langsung menciptakan ruang refleksi yang cukup serius. Orang yang datang ke sana biasanya sedang dalam titik yang sulit. Pulang dari sana, mereka sering merasa lebih ringan. Apakah itu efek spiritual atau sekadar efek beristirahat dari rutinitas? Tergantung siapa yang ditanya.
Yang Berubah dan yang Tidak
Mitos pohon dewandaru menarik perhatian karena ia menawarkan sesuatu yang instan: satu daun jatuh, dan nasib berputar. Ini berbeda dari etika kerja Jawa yang biasanya lebih panjang dan berlapis, menuntut kesabaran, ketekunan, dan keselarasan dengan lingkungan.
Mungkin di sinilah mitos ini layak dilihat dengan lebih kritis. Kalau pengunjung datang semata-mata menunggu daun jatuh sebagai kompensasi dari kerja keras yang tidak mau dilakukan, ia sudah mereduksi tradisi ziarah menjadi semacam lotre. Dan lotre, sebagaimana kita tahu, tidak berpihak pada siapapun secara konsisten.
Pohon dewandaru tidak mengubah nasib siapapun secara langsung. Yang mengubah nasib orang adalah keputusan yang mereka buat setelah pulang dari sana, dengan kepala yang lebih jernih dan hati yang lebih tenang. Kalau pohon itu membantu seseorang sampai ke kondisi itu, ia sudah menjalankan fungsinya dengan baik.
Selebihnya, daun tetap gugur setiap hari, tanpa pilih kasih, tanpa agenda. Yang memberi maknanya adalah kita, dan itulah inti dari seluruh cerita ini.