Setiap malam Jumat Legi, ratusan orang mendaki lereng Gunung Kawi dengan satu harapan yang sama: pulang dengan rezeki berlipat. Mereka membawa sesaji, uang receh, dan doa, sebagian setelah mengorbankan tabungan bertahun-tahun hanya untuk ongkos perjalanan ke sini.

Sering luput dari kesadaran kita, ada orang-orang lain di sana yang tidak perlu berdoa supaya rezekinya datang. Merekalah yang sesungguhnya membentuk ekosistem ekonomi di balik mitos Gunung Kawi.

Makam yang Menggerakkan Roda Ekonomi

Gunung Kawi di Kabupaten Malang menyimpan makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo, dua tokoh yang diyakini bisa menjadi perantara antara manusia dan kekayaan. Kepercayaan ini sudah berjalan lebih dari satu abad, dan selama itu pula, roda ekonomi di sekitar makam tidak pernah berhenti berputar.

Desa Wonosari, pintu masuk utama kawasan ziarah, tumbuh menjadi kota kecil yang hidupnya bergantung penuh pada arus peziarah. Penginapan, warung makan, toko oleh-oleh, pedagang bunga setaman, jasa parkir, sampai penyewa pakaian untuk ritual, semuanya berdiri rapat di sepanjang jalan menuju kompleks makam.

Satu hari kunjungan seorang peziarah bisa menghasilkan perputaran uang antara Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta lebih, tergantung seberapa jauh ia datang dan seberapa serius ia menjalani ritualnya. Kalikan dengan ribuan pengunjung setiap akhir pekan, dan angkanya menjadi sangat tidak kecil.

Pedagang Bunga dan Logika Sesaji

Salah satu segmen ekonomi yang paling stabil adalah perdagangan kembang telon, buket tiga jenis bunga, mawar, melati, dan kantil, yang hampir selalu diminta dalam setiap prosesi ziarah. Para pedagang bunga di sini tidak menjual keindahan. Mereka menjual keabsahan ritual.

Tanpa bunga yang benar, banyak peziarah merasa ritualnya tidak lengkap. Permintaan pun terbentuk dengan cara yang tidak biasa: harga hampir tidak relevan, karena pembeli akan tetap membeli. Pedagang bunga di Gunung Kawi memahami ini dengan sangat baik.

Hal yang sama berlaku untuk pedagang dupa, kemenyan, dan air mawar. Komoditas-komoditas ini tidak bisa diganti sembarangan karena masing-masing punya peran dalam narasi ritual yang sudah dipercaya turun-temurun. Selama kepercayaan itu hidup, permintaan tidak akan turun.

Para Juru Kunci dan Kelas Baru

Di atas rantai pedagang, ada posisi yang jauh lebih kuat. Juru kunci, penjaga makam yang sekaligus pemandu ritual, punya otoritas yang tidak bisa digantikan oleh siapapun di kawasan ini.

Mereka tahu urutan doa yang benar. Mereka tahu mana bagian makam yang "lebih kuat" untuk tujuan tertentu. Mereka adalah pemegang pengetahuan yang selama ini tidak didokumentasikan di mana pun selain dalam ingatan dan kepercayaan kolektif. Posisi ini memberi mereka daya tawar yang luar biasa.

Sumbangan sukarela yang diserahkan kepada juru kunci seringkali jauh dari kata "seadanya." Peziarah yang datang dengan harapan besar cenderung memberi dengan tangan yang juga besar, karena dalam logika pertukaran mistis, pemberian yang lebih besar dianggap membuka pintu rezeki yang lebih lebar pula.

Hotel dan Investor dari Luar

Seiring popularitas Gunung Kawi tumbuh, modal dari luar desa mulai masuk. Penginapan yang awalnya hanya berupa losmen sederhana kini bersaing dengan hotel berbintang dua yang dibangun oleh investor dari Malang dan Surabaya.

Pergeseran ini punya konsekuensi. Warga lokal yang dulu menguasai hampir seluruh rantai ekonomi ziarah mulai kehilangan sebagian kuenya ke tangan pemilik modal yang tidak tinggal di sana. Tanah yang dulu murah naik harganya, dan tidak semua warga asli bisa mempertahankan usahanya di tengah persaingan yang lebih ketat.

Pola ini bukan sesuatu yang unik untuk Gunung Kawi. Hampir semua destinasi wisata religi di Jawa mengalami siklus yang sama: mitos menarik massa, massa menarik modal, modal menggeser warga lokal dari posisi sentral ke posisi pinggiran.

Kekayaan yang Tumbuh dari Konsistensi

Ada sesuatu yang perlu dicermati dari seluruh ekosistem ini. Para peziarah datang untuk mencari kepastian rezeki lewat jalan yang tidak pasti, berspekulasi dengan uang, waktu, dan harapan, berharap mistis Gunung Kawi akan membalas investasi batin mereka.

Sementara itu, pedagang bunga yang sudah berjualan di sini selama 20 tahun, pemilik warung yang buka setiap hari pukul 04.00 pagi, atau tukang parkir yang hafal setiap sudut lapangan, sudah kaya karena konsistensi.

Seperti yang dirangkum dalam kajian wisata religi di Jawa yang diterbitkan oleh Patrawidya BNPB Yogyakarta, kepercayaan terhadap tempat keramat menghasilkan kapital sosial dan ekonomi yang konkret, bahkan ketika nilai spiritualnya sendiri sulit diukur.

Gunung Kawi adalah bukti paling nyata dari tesis tersebut. Perputaran ekonominya berjalan di atas kepercayaan orang lain, tapi tidak bergantung padanya.