Bukan pemandangan asing di Jawa jika kita mendapati, seorang pemilik warung batik di kawasan Malioboro, misalnya yang setiap pagi membuka primbon sebelum memulai hari. Ia tidak melakukannya karena takut sial. Ia melakukannya, untuk "menyetel diri" agar tidak terlalu bernafsu atau sebaliknya, terlalu lesu menghadapi hari.
Kebiasaan itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada sistem berpikir yang cukup menarik, dan cukup dalam untuk diperdebatkan dengan filsuf Barat mana pun.
Primbon Bukan Buku Ramalan
Primbon adalah kumpulan catatan yang memuat perhitungan hari, sifat manusia berdasarkan tanggal lahir, tanda-tanda alam, dan panduan ritual. Kata dasarnya adalah rimbu, yang merujuk pada kumpulan atau himpunan. Ini catatan yang diwariskan, disalin, dan disempurnakan selama berabad-abad.
Yang sering disalahpahami: primbon dibaca sebagai ramalan, padahal fungsi aslinya lebih mirip peta. Ia tidak memberitahu apa yang akan terjadi. Ia membantu pembacanya memahami posisi dirinya dalam aliran waktu dan semesta.
Dalam tradisi Jawa, waktu tidak linier seperti kalender Gregorian. Waktu punya siklus. Ada wuku (siklus mingguan 30-pekan dalam kalender Jawa) dan pasaran (siklus lima hari pasar), yang keduanya membentuk karakter dan kecenderungan ketika dipadukan. Membaca primbon sejatinya adalah latihan kesadaran, bukan sekadar prediksi nasib.
Nrimo Bukan Pasrah yang Malas
Nrimo ing pandum sering diterjemahkan sebagai "menerima apa yang diberikan." Dari luar, ini terdengar seperti kepasrahan pasif, bahkan fatalistik.
Nrimo berarti berusaha sepenuhnya, lalu melepas kemelekatan pada hasilnya.
Dalam tradisi Hindu-Jawa, ada konsep serupa yang disebut nishkama karma, bertindak tanpa nafsu akan hasil.
Dalam filsafat Stoa yang dikembangkan Marcus Aurelius, ada prinsip dikotomi kendali: fokuslah pada apa yang bisa kamu kontrol, lepaskan yang tidak.
Nrimo ing pandum berdiri di antara keduanya, dengan caranya sendiri yang lebih membumi.
Titik Temu dengan Dunia Modern
Psikologi kontemporer punya istilah yang relevan di sini: locus of control. Penelitian Julian Rotter di tahun 1960-an membedakan orang-orang yang percaya nasib ditentukan diri sendiri (internal) versus ditentukan kekuatan luar (eksternal).
Nrimo Jawa tidak masuk ke salah satu kutub itu. Ia mengakui bahwa ada hal yang di luar kendali, tapi tidak lantas menyerahkan semua tindakan ke tangan takdir.
Praktik mindfulness yang sekarang populer di seluruh belahan dunia punya logika serupa. Hadir di momen ini, tidak menarik diri ke masa lalu atau mendorong ke masa depan. Primbon, dalam penggunaannya yang paling bijak, mengajak orang untuk sadar terhadap ritme waktu dan dirinya sendiri. Ini adalah latihan kehadiran, dan bukan pelarian.
Dua Konsep dalam Satu Ekosistem
Primbon dan nrimo bekerja dalam ekosistem yang sama. Primbon memberi pembacanya kesadaran akan posisi, karakter, dan kecenderungan. Nrimo memberi sikap yang tepat untuk menjalani apa yang sudah dipahami itu.
Bayangkan seseorang yang tahu dari primbon bahwa hari tertentu secara kultural punya "bobot" yang berat, mungkin kurang cocok untuk memulai usaha baru. Ia tidak lantas batal bekerja. Tapi ia mungkin memilih untuk lebih hati-hati, lebih sabar, lebih tidak memaksakan.
Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, nrimo membantunya tidak jatuh ke frustasi yang merusak. Sistem ini mengalirkan ambisi lewat kanal yang lebih tenang.
Filosofi Keseimbangan Hidup yang Masih Hidup
Generasi muda Jawa saat ini punya hubungan yang kompleks dengan kedua konsep ini. Sebagian menolaknya sebagai takhayul. Sebagian lain mengadopsinya dengan cara yang lebih kontekstual, mungkin tidak lagi membuka lembar primbon fisik, tapi masih menerapkan logika di baliknya: kenali dirimu, kenali waktumu, dan jangan melawan arus semesta dengan kepala yang panas.
Di kota-kota besar, ada anak-anak muda yang kembali tertarik pada primbon. Bukan karena percaya pada angka-angkanya secara harfiah, tapi karena mereka menemukan di sana sesuatu yang tidak mereka temukan di aplikasi produktivitas mana pun: sebuah pengingat bahwa hidup punya ritme.
Itulah yang membuat filosofi keseimbangan hidup dalam primbon dan nrimo ini tetap relevan dalam budaya Jawa kontemporer.
Jika suatu kelak kita mendapati "kata primbon" lalu lalang di media sosial, sadarilah bahwa primbon bukan ramalan melainkan panduan untuk berdamai dengan ketidakpastian.