Setiap awal Mei, Jalan Pemuda di jantung Kota Semarang berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan kata "karnaval". Ribuan peserta berjalan di bawah cahaya malam, mengenakan kostum yang mewakili ratusan tahun sejarah, tradisi, dan akulturasi budaya yang membentuk kota ini. Penonton memadati tepi jalan dari sore hingga larut, membawa pulang sesuatu yang tidak bernama tapi terasa nyata.

Semarang Night Carnival lahir dari keinginan memperingati hari jadi kota dengan cara yang hidup, yang bisa dirasakan oleh semua kalangan. Dalam perjalanannya, ia berkembang menjadi cermin dari identitas Semarang yang paling jujur: multikultur, berlapis sejarah, dan sepenuhnya Jawa dalam caranya sendiri.

Lahir dari Perayaan, Tumbuh Menjadi Tradisi

Semarang Night Carnival pertama kali digelar pada 2011 atas inisiatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. Sejak saat itu, event ini menjadi agenda tetap yang selalu diadakan pada minggu pertama bulan Mei, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Semarang. Dalam satu dekade lebih penyelenggaraannya, karnaval ini tumbuh dari acara kota menjadi event budaya yang diakui secara nasional.

Perkembangan itu bukan kebetulan. Setiap tahun panitia merumuskan tema langsung dari tradisi yang masih hidup dan dipraktikkan. Tema-tema seperti rewanda (monyet), yang merujuk langsung pada tradisi Sesaji Rewanda, menunjukkan bahwa karnaval ini memang dirancang sebagai perayaan yang punya akar.

Pada penyelenggaraan 2026, Semarang Night Carnival resmi masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Status ini adalah penegasan bahwa karnaval ini telah menjadi bagian dari peta budaya nasional. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Purbawidya terbitan BRIN mencatat bagaimana jejak budaya lokal konsisten hadir dalam setiap penyelenggaraan karnaval dari 2011 hingga 2022, sebuah kesinambungan yang jarang ditemukan pada event urban sejenis.

Warak Ngendog: Hewan Imajiner yang Menyimpan Sejarah Kota

Jika ada satu ikon yang paling mewakili Semarang Night Carnival, itu adalah Warak Ngendog. Hewan imajiner ini memiliki kepala naga, tubuh menyerupai buraq (kendaraan legendaris dalam tradisi Islam), dan kaki seperti kambing. Tiga bagian tubuh itu bukan kebetulan; masing-masing mewakili tiga etnis yang membangun kota ini, yaitu Tionghoa, Arab, dan Jawa.

Kata warak dalam bahasa Jawa berarti badak, sementara ngendog artinya bertelur. Ada tafsir lain yang menyebut warak berasal dari bahasa Arab yang berarti suci. Dua tafsir itu sendiri sudah mencerminkan akulturasi yang menjadi inti karakter Semarang.

Secara historis, Warak Ngendog diyakini sudah ada sejak Ki Ageng Pandan Arang mendirikan Kota Semarang dan menjabat sebagai bupati pertamanya. Hewan imajiner ini menjadi salah satu media Ki Ageng Pandan Arang dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang majemuk. Ketika ia muncul dalam parade, kota sedang bercerita tentang asal-usulnya sendiri.

Setiap kali sosok Warak Ngendog muncul dalam parade, kota sedang menceritakan dirinya sendiri. Tiga kepingan budaya yang terlihat berbeda itu berdiri dalam satu tubuh tanpa saling meniadakan. Itulah cara Semarang memahami keberagaman sejak awal berdirinya.

Sesaji Rewanda: Warisan Sunan Kalijaga di Panggung Malam

Salah satu subtema yang kerap hadir dalam Semarang Night Carnival adalah rewanda, kata dalam bahasa Jawa yang berarti monyet. Rujukannya jelas: tradisi Sesaji Rewanda yang hidup di kawasan Goa Kreo, sebelah barat daya Kota Semarang.

Tradisi ini berakar dari kisah Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo, yang pernah melewati kawasan tersebut dalam perjalanannya mencari kayu jati untuk dijadikan soko guru (tiang utama) Masjid Agung Demak. Kawanan monyet penghuni Goa Kreo membantu perjalanan sang wali. Sebagai bentuk rasa syukur, Sunan Kalijaga berpesan kepada warga setempat untuk selalu menjaga hubungan baik dengan monyet-monyet itu.

Setiap tahun pada bulan Syawal, warga menggelar kirab budaya dengan membawa gunungan (tumpukan hasil pertanian berbentuk gunung) menuju Goa Kreo sebagai persembahan dan ungkapan syukur. Tradisi ini merawat hubungan antara manusia, alam, dan sejarah spiritual dalam satu upacara yang terus hidup.

Ketika Semarang Night Carnival menjadikan rewanda sebagai salah satu tema, karnaval itu sedang menghubungkan perayaan modern dengan akar spiritual yang berusia ratusan tahun. Ini adalah cara yang elegan untuk membuat masa lalu tetap terasa relevan bagi generasi yang menontonnya.

Kostum sebagai Bahasa Budaya

Semarang Night Carnival melibatkan sekitar 1.500 peserta dari berbagai kelompok, komunitas, dan delegasi daerah. Kostum yang mereka kenakan mencerminkan hamparan identitas: flora dan fauna lokal, motif batik pesisir, pakaian adat dari berbagai suku Nusantara, hingga pengaruh budaya Cina, Arab, dan Belanda yang memang menjadi bagian nyata dari sejarah Semarang.

Tidak ada yang kebetulan dalam pilihan kostum itu. Setiap elemen adalah argumen visual tentang siapa kota ini dan dari mana ia berasal. Seseorang yang menonton karnaval ini sejatinya sedang membaca sejarah panjang yang disampaikan lewat kain, cat, dan gerak.

Kota Pesisir, Identitas yang Terbuka

Kota pesisir seperti Semarang selalu menjadi titik temu peradaban. Berbeda dengan kota-kota kerajaan di pedalaman Jawa yang cenderung mempertahankan kemurnian budaya, Semarang justru merawat persilangan itu sebagai bagian dari identitasnya. Pelabuhan membawa pedagang, pedagang membawa budaya, dan budaya itu kemudian berakar dan berubah menjadi sesuatu yang khas Semarang.

Karnaval ini adalah cara kota merayakan sifat terbukannya. Ia tidak malu dengan pengaruh luar; ia justru menampilkannya di bawah sorot lampu malam sebagai sesuatu yang patut dibanggakan.

Semarang Night Carnival 2026: Dari Jalan Pemuda ke Panggung Dunia

Penyelenggaraan Semarang Night Carnival 2026 menjadi yang terbesar dalam sejarahnya. Bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Semarang ke-479 pada 2 Mei 2026, karnaval ini akan diikuti delegasi dari 15 negara. Di antara mereka ada Inggris, Prancis, Belanda, Jepang, India, Vietnam, Ghana, dan sejumlah negara lainnya dari Asia, Afrika, dan Eropa.

Parade dimulai dari halaman Balai Kota Semarang di Jalan Pemuda pukul 18.30 WIB, dengan tema "Miracle of Recycle". Sekitar 650 peserta akan berjalan melewati rute yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, membawa identitas budaya masing-masing di bawah sorot cahaya malam.

Semarang Night Carnival adalah cara kota Semarang mengingat dirinya sendiri. Di balik cahaya dan kostum yang spektakuler, ada Warak Ngendog yang menyimpan cerita tiga etnis, ada rewanda yang membawa jejak Sunan Kalijaga, ada pengrajin batik pesisir yang menitipkan motif mereka di atas kain yang diarak sepanjang malam. Karnaval berakhir, lampu jalan kembali ke cahaya biasanya. Tapi Semarang tetap membawa pulang apa yang sudah ia miliki sejak lama: sejarah yang tidak perlu dibuat-buat, karena ia memang selalu hidup.