Ada sebuah pepatah Jawa yang hidup bukan di dalam teks, melainkan di dalam percakapan. Diucapkan oleh orang tua kepada anaknya, oleh guru kepada muridnya, kadang juga di pidato pernikahan dan sambutan pemakaman. Bunyinya sederhana: mikul dhuwur mendhem jero. Tapi makna di baliknya jauh lebih kompleks dari yang terdengar.
Di belahan dunia yang lain, Konfusius mengajarkan hal yang serupa kepada ribuan muridnya pada abad ke-5 sebelum Masehi. Konsep itu mereka sebut xiao, yang kemudian menjadi tulang punggung etika sosial Tiongkok selama lebih dari dua ribu tahun. Dua peradaban, dua bahasa, satu pertanyaan yang sama: apa artinya benar-benar menghormati orang yang melahirkan dan membesarkan kita?
Apa yang Dimaksud Mikul Dhuwur Mendhem Jero
Secara harfiah, mikul berarti memikul di atas bahu, dhuwur berarti tinggi, mendhem berarti menanam atau mengubur, dan jero berarti dalam. Gabungkan semuanya, dan Anda mendapat gambaran fisik yang sangat Jawa: seseorang yang mengangkat sesuatu setinggi mungkin sambil mengubur sesuatu yang lain sedalam mungkin.
Yang diangkat adalah kebaikan, jasa, dan nama baik orang tua serta leluhur. Yang dikubur adalah kekurangan, kesalahan, dan aib mereka. Pepatah ini bukan anjuran untuk berbohong atau menutup mata terhadap kenyataan. Ia adalah ajaran tentang proporsi: apa yang perlu ditonjolkan, dan apa yang cukup disimpan dalam hati.
Menjaga Nama, Bukan Sekadar Diam
Dalam konteks kehidupan sehari-hari Jawa, mikul dhuwur mendhem jero berarti seorang anak yang berhasil membawa kehormatan keluarganya melalui perilaku, prestasi, dan akhlaknya. Nama baik orang tua terangkat bukan karena orang tua itu sempurna, melainkan karena anaknya menjadi manusia yang baik.
Sisi mendhem jero membutuhkan kebijaksanaan yang lebih halus. Ia bukan tentang menutupi kejahatan. Ia tentang memahami bahwa setiap manusia menyimpan kelemahan, dan bahwa mempertontonkan kelemahan orang tua kepada publik hanya menghasilkan luka, bukan kebenaran yang bermanfaat.
Lebih dari Sekadar Hubungan Orang Tua dan Anak
Pepatah ini juga berlaku untuk guru, sesepuh, dan pemimpin yang dihormati. Dalam pandangan Jawa, siapa pun yang berjasa dalam membentuk seseorang layak mendapat perlakuan yang sama: angkat nama baiknya, simpan kekurangannya dengan arif. Ini adalah etika relasi yang melampaui batas keluarga inti.
Xiao: Jiwa Kebaktian dalam Tradisi Tiongkok
Xiao (孝) adalah karakter aksara Tiongkok yang menggabungkan kata "tua" di atas dan "anak" di bawah, seolah menggambarkan seorang anak yang menopang orang tuanya. Konsep ini dikembangkan secara sistematis oleh Konfusius pada abad ke-5 sebelum Masehi dan kemudian dikodifikasi dalam teks klasik yang disebut Xiaojing, atau Kitab Kebaktian Anak.
Bagi Konfusius, xiao adalah fondasi dari semua kebajikan. Seseorang yang tidak mampu berbakti kepada orang tuanya tidak mungkin menjadi warga negara yang baik, pemimpin yang adil, atau manusia yang bermoral. Hubungan antara anak dan orang tua adalah yang paling mendasar dari lima hubungan kardinal dalam etika Konfusian.
Dari Keluarga ke Negara
Pada masa Dinasti Han (206 SM hingga 220 M), konsep "memerintah negara melalui kebaktian anak" menjadi prinsip politik yang nyata. Para pejabat dipilih bukan hanya berdasarkan kemampuan, tetapi juga berdasarkan reputasi mereka dalam berbakti kepada orang tua. Xiao bukan hanya urusan privat keluarga; ia menjadi barometer karakter publik seseorang.
Xiao mencakup hal-hal yang sangat konkret: merawat orang tua yang sakit, menyediakan kebutuhan mereka, tidak melukai diri sendiri karena tubuh adalah pemberian orang tua, serta melanjutkan nama keluarga. Ia juga mencakup dimensi yang lebih abstrak: menjaga nama baik leluhur bahkan setelah mereka wafat.
Titik Temu di Antara Dua Tradisi
Jika keduanya diletakkan berdampingan, yang paling mencolok bukanlah perbedaannya, melainkan kesepakatan mereka pada satu hal mendasar: menghormati orang tua adalah cara manusia belajar menghormati sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Dalam tradisi Jawa, mikul dhuwur mendhem jero sering dikaitkan dengan kesadaran spiritual. Menghormati orang tua adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Tuhan, karena orang tua adalah perantara kehadiran seseorang di dunia. Dalam tradisi Konfusian, xiao juga menjadi jembatan antara tata kelola diri, tata kelola keluarga, dan tata kelola negara.
Keduanya percaya bahwa keluarga adalah sekolah pertama moralitas. Apa yang dipelajari seorang anak tentang cara memperlakukan orang yang berjasa kepadanya akan menentukan cara ia memperlakukan dunia.
Di Mana Keduanya Berjalan Berbeda
Perbedaan yang paling terasa ada pada kadar kepatuhan yang dituntut. Xiao dalam tradisi klasik Tiongkok sangat menekankan kepatuhan kepada orang tua, bahkan ketika orang tua salah. Ada narasi dalam teks klasik di mana seorang anak yang baik tetap tunduk meski diperlakukan tidak adil, dan ketekunan itu justru dianggap sebagai kebajikan tertinggi.
Mikul dhuwur mendhem jero bergerak dengan cara yang berbeda. Ia tidak secara eksplisit menuntut kepatuhan buta. Fokusnya ada pada cara seseorang membawa dirinya di hadapan dunia: angkat yang baik, simpan yang buruk. Ada ruang untuk ketidaksepakatan, selama dilakukan dengan cara yang tidak mempermalukan.
Perbedaan lain ada pada cara pengkodifikasian. Xiao lahir dari tradisi filsafat sistematis yang terdokumentasi dalam teks, dibahas di sekolah, dan dijadikan ukuran dalam seleksi pejabat. Mikul dhuwur mendhem jero hidup lebih organik, diturunkan dari mulut ke mulut, dari orang tua ke anak, dan kekuatannya justru ada pada kesederhanaannya yang mudah diingat.
Relevansi yang Tidak Hilang Dimakan Waktu
Di era ketika media sosial menjadi ruang publik baru, kedua nilai ini mendapat tantangan yang tidak pernah dibayangkan oleh para leluhur yang merumuskannya. Anak-anak sekarang bisa mempertontonkan konflik keluarga kepada ribuan orang dalam hitungan detik. Mendhem jero terasa seperti kemewahan yang susah dipertahankan.
Tapi justru di situlah nilai keduanya terasa semakin penting. Bukan sebagai larangan untuk jujur, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua kebenaran perlu diumumkan. Ada kebenaran yang lebih bermanfaat jika disimpan, direnungkan, dan diselesaikan dalam ruang yang semestinya.
Dua tradisi yang lahir dari dua peradaban berbeda ini akhirnya menunjukkan sesuatu yang sama: bahwa menghormati orang tua dan leluhur bukan tentang menutup mata terhadap kelemahan mereka, melainkan tentang memilih dengan bijak mana yang perlu dijaga dan mana yang perlu dirayakan. Sebuah pilihan yang, di setiap zaman, tetap membutuhkan kedewasaan.